Halo selamat pagi, siang, sore, atau mungkin malam (hehee. tergantung dari kapan waktunya teman-teman membaca tulisan ini). Apa kabar? Semoga sehat selalu ya dan tetap jaga kesehatan serta ketatkan protokol kesehatan. Apalagi sekarang jadi makin banyak varian dari Covid-19 yaa. Semoga pandemi ini segera berlalu. Tak lupa juga saya mau menyapa teman-teman yang kebetulan hari ini sedang kurang fit, semoga lekas sembuh, lekas pulih lagi, dan dapat beraktivitas seperti biasanya kembali. Aamiin yaa rabbal'alamin.
Mungkin sebagian dari teman-teman agak sedikit bingung, kok tumben saya share hal yang seperti ini. Sedikit berbau-bau galau begini. Tenang, saya menulis hal seperti ini bukan artinya saya sedang ada masalah dengan suami, tapi setelah saya berdiskusi dengan suami tentang hal ini, sepertinya ini perlu untuk dishare terutama untuk teman-teman yang kebetulan berusia up to 25 tahun, terutama perempuan umumnya kalo udah mencapai usia segini orientasinya lebih ke jenjang pernikahan 😅 (that's something what I ever felt some years ago) am I wrong? please correct it 🙏
Saya sangat yakin teman-teman pasti sering sekali mendengar istilah gambar di atas ini. Yash! I really belive it. Kok bisa sampai seyakin itu, karena saya telah membuktikannya sendiri. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika saya masih terus bertahan atau mungkin melanjutkan hubungan dengan seseorang di masa lalu (yang tadinya juga sempat prepare buat melenggang ke jenjang pernikahan). Apakah saya akan jauh lebih bahagia jika dibanding dengan suami saya? Apakah sebaliknya? Apakah saya akan jauh lebih menikmati hidup jika dibandingkan dengan suami saya? Apakah sebaliknya? Semuanya sangat tidak jelas. Tapi untuk teman-teman yang memang ingin memberikan peluang kembali untuk si mantan atau seseorang yang dulu pernah dekat, silahkan, itu pilihan. Tapi jangan sampai teman-teman balikan lagi pas dalam posisi teman-teman sudah dilamar orang yaah. Ga baik dan tentunya bukan menghancurkan citra keluarga saja, tapi citra diri sendiri pun juga akan hancur dan tentunya akan merembet kemana-mana.
Banyak chat atau dm yang masuk intinya:
"aku ditinggal nikah sama si A."
"kok sampe sekarang aku belum nikah-nikah juga sih. ngeliat temen-temen udah pada nikah sebenernya aku iri sama mereka. tapi ga ada laki-laki yang mau sama aku sampe sekarang."
Yaps. Kurang lebih itulah kalimat yang banyak sekali masuk. Sebenarnya agak sedikit bingung sih cara untuk menjelaskannya, kebetulan malah saya yang duluan nikah daripada mantan 😂 dan ikut happy banget pas dapet kabar akhirnya mantan menemukan sosok istri yang selama ini dia cari 😊 Tapi mudah-mudahan tulisan aku ini bisa sedikit membuka mata teman-teman yang kebetulan ditinggal nikah sama mantan ato gebetan ato semacam hopeless karena ga ada sowok yang deket sampai saat ini.
Dulu waktu pasca broke up, sekitar hampir setaun agak cukup stres juga sih karena selalu ditanyain "kapan nikah". Sampai akhirnya saya sempat berpikir begini, "Memangnya usia 24 tahun belum punya pacar lagi ato ada yang deket ato belum punya suami, itu aib ya?" dan bagusnya lagi itu lingkungan kantor sangat mendukung sekali untuk saya menjadi lebih sibuk ngurusin urusan kerjaan ditambah juga urusan kuliah. So, lupa deh sama urusan pasangan hidup. Hehehehe.
Ya, semenjak patah hati itu saya benar-benar menutup hati dan tidak ingin dekat dengan siapapun (soalnya waktu itu masih belum bisa move on dan sedikit berharap bisa balikan lagi. tapi bersyukur banget atasanku ngasih aku kerjaan yang luar biasa sampe harus bolak balik keluar kota bahkan bisa sampai berteman dengan mba pramugari dan mas pramugara di kereta. Hehehe. Apa selama di jalan itu ketemu seseorang yang mungkin bisa dijadikan kandidat pasangan hidup? Sebenarnya ada lah beberapa, tapi sayangnya saya sudah terlalu menutup hati dan sudah tidak yakin lagi bisa merasakan minimal hal yang sama lagi seperti dulu. Boleh juga disebut agak sedikit trauma-lah buat menjalin hubungan. Hehehe. Sampai pada akhirnya saya pun berpikir, "Bahaya juga sih ya kalo jadi perempuan yang terlalu mandiri. Bisa-bisa fitrahku sebagai seorang perempuan itu hilang dengan sempurna." Sejak saat itulah mulai sering istighfar dan meminta semuanya yang terbaik ke Allah dan tentunya menyerahkan segala sesuatunya, terutama urusan hidup dan pasangan. Sampai pada akhirnya eehh saya dikodein sama temen saya sendiri yang mana dia itu suamiku. Hehehe. Ternyata sedekat itu jodohnya, teman satu geng SMP. Kalau suami bisa langsung nyambung sama temen-temen tu karena klub basket sedangkan saya bisa join bareng itu karena dulu saya salah satu pengurus OSIS dan uniknya lagi teman-teman dekat kami itu semuanya sama. Sebenarnya ini sebuah keuntungan sih jadi kalo mau mengorek suami lebih dalam bisa langsung tanya aja ke teman-teman, begitupun sebaliknya. 😂😂
Oke, itu sebagai prolog dan mungkin bisa menginspirasi hidup teman-teman juga. Ya, saya tahu perasaan teman-teman ketika sudah berada dititik rasanya ingin menyerah, tapi masih ingin menunggu atau bahkan mencari dan mungkin mempertanyakan siapa sih jodohku? Atau mungkin kenapa sih dia begitu banget? Setega itu dia berbuat sampai ninggalin. Simple sebenarnya jawabannya dan sangat jelas sekali bahwa dia bukanlah jodohmu. Saya pun sangat berat ketika menyadari hal tersebut, tapi itulah sebuah kenyataan yang harus diterima. Pelan-pelan tentunya ga bisa sekaligus langsung menerima begitu saja. Kurang lebih sekitar setahunan saya baru bisa menerima hal tersebut. Kok bisa secepat itu? Pertama saya ada keinginan kuat untuk healing, kedua kesibukan saya di kantor dan di kampus yang menyebabkan pada akhirnya saya dengan sangat cepat dan mudah melupakan hal tersebut (jadi pribadi work-oriented), ketiga keinginan kuat saya ingin segera menyelesaikan studi (karena kebetulan waktu itu saya mendapatkan tawaran di beberapa universitas untuk menjadi dosen tetap di sana), dan keempat yang terakhir didukung dengan pribadi saya yang perfectionist dan ambisius jadi semua itu sangat mendukung sampai akhirnya saya lupa kalau sempat ada keinginan untuk menikah di tahun 2019 atau 2020. Hehehe.
Ada beberapa poin yang perlu teman-teman pahami, khususnya ketika ternyata bukan dialah orang yang sebenarnya tepat untuk kita. Ini sebenarnya berdasarkan pengalaman saya ya, hehehe. Mudah-mudahan ada hal yang bisa teman-teman petik hikmahnya.
- Pertanyaan "Kapan Nikah" anggap sebagai angin lalu, dan cukup jawab dengan "Doakan saja" walaupun sebenarnya hati merasa tidak bisa damai.Mungkin ini tampak sepele tapi ini berpengaruh sangat besar, khususnya secara psikologis. Kenapa? Karena sampai kapanpun juga pertanyaan kapan apalagi kita belum bisa menjawabnya dengan sangat lugas, hal ini akan terus ditanyakan oleh orang-orang. Jikalaupun ada yang sampai membanding-bandingkan dengan orang lain atau mungkin menganggap kalau standar kita ketinggian, abaikan saja. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kita hadapi. Tentunya untuk melakukan hal ini tidak mudah, perlu dilatih dan terus menerus sampai akhirnya kita bisa kuat dan bisa menerima hal tersebut.
- Berhenti mempertanyakan siapakah jodohku?Berdasarkan pengalamanku, semakin terus mempertanyakan hal ini semakin sedih dan bahkan memungkinkan pemikiran seperti ini, "yaudah kalo ada yang mau sama aku, langsung nikah aja." padahal kita belum tahu siapa dia sebenarnya. Boleh disebut langsung main caplok aja orangnya. Justru inilah bahayanya. Bersyukur kalau ternyata orang yang dicaploknya itu baik, kalau sebaliknya, banyak sekali hal kurang menyenangkan yang kemungkinan akan terjadi. KDRT salah satu masalahnya. Jadi sebisa mungkin hindari hal tersebut dan berhenti bertanya terus menerus siapa jodohku tanpa adanya berserah diri ke Allah swt. dan sebisa mungkin hindari pertanyaan itu dengan perasaan kalut ataupun galau. Memang berat tapi teman-teman pasti bisa melaluinya. Semangat!
- Lihat karakter diri dan lihat apa yang kita inginkanJodohku adalah cerminan kepribadianku. That's true! Totally true. Kenapa bisa begitu? Begini. Semisal kalau teman-teman ingin punya suami yang selalu menjaga sholatnya dan tepat waktu, rajin puasa sunnah (sunnah saja dijalani apalagi yang wajib ya?), rajin bersedekah, hafalannya banyak, dan lain sebagainya yang teman-teman anggap sosok seperti itulah suami/istri impian. Oke berharap atau berandai-andai boleh, tapi ini yang sebenarnya perlu diperhatikan juga. Apakah kepribadian kita sudah sama seperti sosok yang kita inginkan? Jikalau sudah berarti ada beberapa hal yang masih perlu teman-teman pertahankan, teman-teman harus istiqomah dengan hal tersebut atau akan jauh lebih baik lagi jika semakin ditingkatkan. Jikalau belum inilah yang perlu mulai kita benahi bersama-sama. Mulailah dari hal-hal sederhana saja dan semakin lama semakin tingkatkan kualitas diri kita. Insyaa Allah suatu hari nanti teman-teman pun akan mendapatkan jodoh dengan kualitas yang sama seperti kita, atau bahkan lebih.
Tapi di luaran sana banyak kok yang bertolak belakang?
Ya ada memang yang bertolak belakang. Tapi hal ini tidak sedikit dalam dirinya muncul sebuah gejolak yang pada akhirnya berujung pada ketidakcocokan. Banyak sekali yang pada akhirnya berujung pada rumah tangga yang sangat dingin, berakhir di meja hijau, atau bahkan KDRT, dan ada juga sampai yang bunuh diri (ini sih paling serem). Jadi sebenarnya tidak ada salahnya kita terus memperbaiki diri seraya kita meningkatkan kualitas diri. - Sibukkan diri pada aktivitas yang postifTentu ini sebagai aktivitas pendukung juga. Yang saya rasakan dulu (sebenarnya selain aktivitas yang positif juga sangat menyita waktu) untuk terpikirkan, "nanti aku nikah sama siapa ya?" sama sekali tidak ada, terbesit pun tidak. Kenapa? Karena semua energi dan tenaga yang ada sudah kita salurkan semuanya ke berbagai aktivitas tersebut. Sehingga waktu istirahat pun hanyalah tidur saja atau cukup pergi jalan-jalan saja. Jadi hal yang utama pada poin ini yaitu cara untuk membahagiakan diri sendiri.
- Bersabar. Suatu hari nanti dia pasti akan datang pada waktu yang tepatKonsep datang tepat waktu sebenarnya tidak sepenuhnya salah tapi tidak sepenuhnya benar juga sih. Lah? Jadi gimana? Intinya jika teman-teman sudah meyakini bahwa suatu hari nanti akan ada waktu yang tepat dan itu giliran kita, pasti akan datang kok. Tetap berusaha tenang dan jangan terbawa emosi. Gusti ora sare dan pasti mendengar semua apa yang kita ceritakan padaNya.
- Ikhlas menjalani hidupIni juga sebagai salah satu kunci juga. Ketika kita masih sering mempertanyakan diri sendiri yang kurang lebih seperti ini, "kenapa sih aku tu begini, begitu, kenapa ga gini, ga gitu." atau "dia mah bisa begini kenapa aku engga." "kenapa sih harus gini ga begitu?" Inilah yang perlu diwaspadai, kenapa? karena secara tidak langsung kita sebenarnya meragukan keadilan Allah swt. sang maha pencipta kita dan bisa juga menyebabkan perasaan iri hati kepada orang lain walaupun mungkin kita tidak bermaksud seperti itu. Jika kita sudah benar-benar menerima segala sesuatunya apalagi sudah mencapai tingkatan ikhlas, saya sangat yakin sekali hidup teman-teman akan jauh lebih tenang walaupun mungkin beberapa pertanyaan itu masih akan terus dipertanyakan namun kali ini teman-teman akan menghadapinya jauh lebih santai. Karena sudah menerima perjalanan hidup kita seperti itu, tidak ada protes lagi. Benar-benar mengikuti ketetapanNya.
Dia meninggalkan kita, yasudah. Dia memang sosok yang sangat baik dan memiliki kepribadian yang baik. Namun dia bukanlah seseorang yang baik untuk kita, bukan seseorang yang baik untuk menjadi pasangan hidup kita.
Kurang lebih seperti itu yang bisa saya share pengalaman hidup yang pernah saya lewati dengan tentunya tidak mudah ya bisa sampai dititik ini. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan diambil hikmahnya serta buang seluruh yang kurang baiknya.
See you on next article
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Komentar
Posting Komentar