Pilih Jurusan Apa Yaa??

Haloo.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hai sahabat semua. Apa kabarnya? Semoga selalu sehat wal afiat ya? Cuaca lagi duhh nyentrong banget panasnya. Jaga kesehatan selalu.

Kali ini saya mau share pengalaman dari SMA dan pada akhirnya memutuskan untuk kuliah di jurusan BK alias bimbingan dan konseling. Semoga tulisan ini ga terlalu terlambat banget buat teman-teman SMA/K atau sederajat buat menentukan pilihan jurusan yang akan diambil ya. Tapi sebelumnya sudah saya share gambaran tentang BK di tulisan sebelumnya atau klik saja ini https://bit.ly/3cuQuxY

Tulisan ini diinspirasi dari keponakan saya dan sepupunya suami yang lagi galau menentukan jurusan di perguruan tinggi tapi masih kepo tentang BK. Salah satu penyebabnyaa karena saya sendiri sihh yang berkecimpung di dunia BK. Hehehe. Kemudian saya pikir tulisan ini bisa saya share juga buat teman-teman yang masih bingung mau pilih jurusan apa tapi masih pingin tahu tentang jurusan BK atau malah mungkin penasaran banget sama jurusan BK ini. 

Oke kita langsung saja yuukk ke pembahasannya.

Dilema siswa menengah atas tingkat akhir

Dulu ketika saya SMA kelas X sedang dalam persiapan diri untuk memasuki jurusan IPA. Loh bukannya dari kelas X udah langsung penjurusan ya? Pada tahun 2009 penjurusan ketika masuk SMA masih belum ditentukan dan baru ditentukan ketika kelas XI. Kalau beberapa tahun belakangan (antara tahun 2016) penjurusan dimulai dari kelas X.

Alasan utama saya ingin di jurusan IPA yaitu tidak lain dan tidak bukan karena saya bersikeras ingin menjadi dokter. Hehehe. Itu memang cita-cita klasik anak-anak tapi menurut saya pribadi sampai usia 17 tahun (pada saat kelas XII) profesi dokter itu punya nilai tersendiri untuk saya. Sehingga pilihan profesi dokter itulah yang pada akhirnya masih melekat sampai saya hampir lulus SMA.

Oke, masuklah ceritanya di jurusan IPA dan terus berjuang semaksimal mungkin belajar di kelas IPA. Sampai akhirnya berada di kelas XII dengan ambisius yang sangat tinggi pingin masuk fakultas kedokteran di UNPAD atau UNDIP. Dapetlah SNMPTN Undangan (kalau sekarang SNMPTN) dengan melihat nilai rata-rata raport dari kelas X sampai kelas XII semester 1. Yaa memang bukan rezekinya yaa, akhirnya terlemparlah alias ga lulus.

Heiiitt. Tapi saya ga patah semangat gitu aja, karena masih ada jalur SNMPTN Tertulis (kalau sekarang SBMPTN). Buat nentuin jurusannya pun dilema luar biasa.Saya yang dari IPA pingin masuk jurusan apa lagi selain kedokteran. Karena pada saat itu aga sedikit ngeri juga kalau memilih jurusan yang sama tapi takutnya gak lulus lagi kalaupun di universitas yang berbeda. Akhirnya saya mundur langkah sejenak dan berkonsultasi dengan guru les dan guru BK sebaiknya saya memilih jurusan apa.

Guru les dan guru BK melihat saya memiliki potensi di bidang bahasa. Tapi ragu karena saya berasal dari jurusan IPA, sedangkan bidang bahasa yaa yang awalnya dari jurusan bahasa (kebetulan di sekolah saya tidak ada jurusan itu) atau jika tidak jurusan bahasa, biasanya dari jurusan IPS. Terus mencari bidang yang bisa saya kuasai, terbesitlah pendidikan kimia, tapi sayang passing grade di universitas yang saya tuju cukup tinggi. Fisika? saya benar-benar hindari jurusan itu. Teknik? Ada yang pas kalau melihat evaluasi hasil belajar dan itu Teknik Informatika (sama seperti jurusan suami saya) atau Teknik Sipil. Hadududu. Saya juga menghindari jurusan teknik. Entahlah karena yang ada dipikiran saya saat itu, "Jurusan teknik pasti banyak fisikanya." Padahal setelah dikonfrimasi oleh suami, jurusan teknik (informatika) itu lebih banyak matematikanya dibandingkan fisikanya. Hehehhe. Kepikiran lagi pendidikan biologi, tapi kok rasanya kurang sreg yaa, karena masih terbayang-bayang kedokteran. Kepikiran juga jurusan ilmu komunikasi, tapi mikirnya lagi itu pasti basicnya IPS.

Akhirnya saya disarankan memilih tes SNMPTN Tertulis dengan pilihan IPC alias Ilmu Pengetahuan Campuran. Kenapa namanya IPC? Karena yaa belajarnya pun harus ekstra, IPA harus belajar IPS juga harus dihantam. Warrrrbiyazaaa kan? Pilihan pertama dan pilihan kedua itu jurusan yang paling saya minati dan saya pun memiliki bakat dan potensi di sana. Pilihan ketiga itu hanya saya sukai saja bidangnya. Jadi dulu pilihan saya itu:
1. Pendidikan dan Sastra Bahasa Inggris - Universitas Bengkulu
2. Pendidikan Biologi - Universitas Bengkulu
3. Bimbingan dan Konseling - Universitas Bengkulu

Saya memang sengaja memilih semuanya dalam satu kampus dengan pertimbangan agar saya tidak harus keluar dari Kota Bengkulu (saat itu saya tinggal di Bengkulu). Kalau jurusan pendidikan dan sastra bahasa inggris dan pendidikan biologi sebenarnya sudah benar-benar terbayang seperti apa. Tapi kalau jurusan bimbingan dan konseling sama-sama masih blank total. Tapi awal mula saya pada akhirnya memilih jursan itu karena guru BK saya melihat saya memiliki ketertarikan dengan bidang psikologi dan memiliki potensi di situ, kalaupun potensinya itu memang tidak sebesar di jurusan bahasa dan biologi. Tapi asalkan saya-nya juga mau belajar dan mengembangkan diri pasti saya pun bisa melaluinya.

Kemudian saya ikuti tesnya, ikut tes melalui jalur mandiri, cari-cari informasi kampus swasta yang lainnya. Namun kali ini saya mengembalikan pada potensi yang saya miliki, tidak sesuai dengan keinginan dan cita-cita di awal yang ingin menjadi dokter. Saya terus mencari informasi kampus yang memiliki jurusan ilmu komunikasi atau jurusan bahasa dan sastra inggris. Ada juga sih beberapa yang menyarankan saya untuk sekolah medis (perawat) tapi entahlah kenapa saya sudah kurang tertarik dengan profesi medis pada saat itu. Sebelum saya mendaftar di jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas di Bandung, eehh saya dinyatakan lulus melalui jalur SNMPTN Tertulis dipilihan ketiga. Alhamdulillah.

Jadi beberapa hal yang perlu diperhatikan (kalau ingin sekali jadi yaa):
1. lihat bakat dan potensi diri,
2. apa yang kita minati,
3. cari tahu informasi jurusan tersebut kepada orang-orang yang berkecimpung di dalam bidang tersebut,
4. konsultasi dengan ahlinya (guru BK, konselor sekolah, konselor karier, guru mata pelajaran, wali kelas),
5. jangan malu atau takut untuk bertanya,
6. semangat untuk terus belajar,
7. kalaupun gagal bisa dicoba ditahun berikutnya, namun jika sudah mulai putus asa, cari alternatif pilihan yang lain tapi tetap sesuai bakat, potensi, dan minat kita bukan karena orang lain, teman, atau orang tua. Karena kehidupan kedepannya kamulah yang menentukan.

Okee. Segitu dulu tulisan dari saya hari ini. Mohon maaf yaa kalau ini dipostnya terlambat banget, tapi semoga bisa jadi salah satu cara untuk membantu teman-teman dalam menentukan jurusan yang akan dipilih untuk pendidikan lanjutan.

Terimakasih banyak. Sampai jumpa ditulisan saya berikutnya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar