Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo sahabat semua! Apa kabar? Semoga sehat selalu ya dan jaga kesehatan selalu. Untuk teman-teman yang kebetulan sedang dalam kondisi kurang fit, luangkan waktu sejenak untuk istirahat dan memulihkan tubuh dan semoga segera pulih kembali ya ๐
Kali ini saya mau share cerita saya, umm... tepatnya pengalaman saya langsung terutama saat masa-masa kehamilan trimester pertama. Agak sedih sih sebenarnya untuk diceritakan, namun setelah saya pikir dan pertimbangkan kembali memang sebaiknya saya share tentang ini. Apalagi masih ada beberapa orang yang belum benar-benar mengetahui hyperemesis gravidarum tersebut (termasuk saya sendiri pada saat itu). Oh iya, ini sebelumnya pernah saya share di twitter (linknya https://twitter.com/dewisuciatia/status/1365582599855345668?s=20).
Sebelumnya saya perlu tegaskan terlebih dahulu bahwa saya bukanlah seseorang yang berkecimpung dalam dunia medis apalagi tenaga medis. Saya hanya seorang perempuan dan bakal calon ibu yang sedang mengandung anak pertamanya dan kebetulan saya pun mengidap hyperemesis gravidarum. Oleh karena itu jika ada beberapa informasi yang kurang tepat mohon maaf yang sebesar-besarnya dan teman-teman boleh membantu mengkoreksinya (tanpa menjudge ya). Gunakan bahasa yang baik dan enak dibaca serta diterima oleh siapapun, karena yang membaca pasti bukan hanya saya saja ๐
Apa sih hyperemesis gravidarum?
Kurang lebih definisi dari hyperemesis gravidarum itu seperti ini (sumber: pas buka google bakalan muncul gambar seperti ini).
Apa yang saya alami selama trimester pertama kehamilan?
Sebenarnya tidak jauh dengan penjelasan pada gambar di atas. Mengalami mual yang luar biasa, muntah yang rasanya seperti perut benar-benar dikuras habis, rasanya benar-benar asam muntahannya itu (seperti kalau muntah asam lambung) dan setelah muntah rasanya benar-benar pahit, nyaris tidak bisa membedakan rasa makanan atau minuman dan hanya tahu rasa pahit saja, pusing banget rasanya kepala tu muter kleyengan dan bahkan sering hampir pingsan karena tidak kuat menahan rasa pusingnya itu, buat buka mata saja rasanya benar-benar tidak kuat (inginnya mata ditutup terus). Apalagi kalo sampai muntah hebat begitu pasti endingya selalu jatuh dalam posisi badan berlutut, karena kebetulan di kamar mandi memang sudah dipasang anti slip mencegah agar tidak jatuh dan ada pegangan besi mirip kaya di toilet-toilet rumah sakit gitu, jadi saya bisa menahan badan dengan memegang pada pegangan itu.
Kerjaan saya cuma bisa tidur seharian, lebih banyak ada di atas kasur. Berguling ke kanan, berguling ke kiri, sesekali telungkup, memposisikan badan seperti sedang sujud, atau menahan perut dengan bantal. Posisi tidur pun jadi lebih tinggi dari biasanya. Bahkan bantal jatah suami pun saya rebut ๐ Pokonya di kamar itu jadi jauh lebih banyak bantal dari biasanya cuma ada 2 bantal dan 1 guling. Kayu putih selalu stand by bahkan nyaris setiap hari mandi kayu putih daripada mandi seperti biasanya (tapi tetep di lap seperti orang yang sedang sakit kalopun ga mandi seharian). Bahkan kayu putih ukuran besar pun habis dalam jangka waktu kurang dari 2 minggu. Oh iya, sebelumnya saya tidak kuat menggunakan kayu putih karena merasa terlalu panas, jadi saya biasanya pakai minyak telon, tapi lama-lama terus diupgrade sampai kayu putih. Sampai pada akhirnya saya merasa kayu putih tidak terasa apa-apa, upgrade terus sampai pakai balsem, minyak angin, dan bahkan saya baru ngerasa badan lebih terasa hangat pakai co*nterp*in dan h*ns*plast koyo yang panas (padahal badan sudah sampai merah-merah, mungkin karena iritasi) ๐ .
Sayangnya dengan apa yang saya alami saat itu bukannya mendapatkan dukungan, tapi hujatan yang jujur itu sangat menyakitkan untuk new preggo mom seperti saya, apalagi itu datang dari keluarga sendiri. Rasanya benar-benar hancur dan merasa tidak berdaya. Sampai akhirnya saya memutuskan tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun. Hp saya fungsikan sebagai alat untuk main game, alarm, dan media untuk membaca e-book. Saking saya tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun saya pun melakukan hal tersebut dan jika yang ingin menghubungi saya harus melalui suami. Padahal saat itu suami lagi luar biasa sibuk dengan urusan kantor apalagi kalau akhir tahun jauh lebih sibuk dari biasanya ๐ญ Jadi penting banget untuk membangun lingkungan yang sangat baik dan sangat positif untuk ibu-ibu hamil, karena dengan adanya lingkungan tersebut dapat meminimalisir tingkatan stress yang dialami oleh ibu hamil. Hal yang perlu diingat adalah semakin tinggi tingkatan stress yang dialami oleh ibu hamil akan semakin tinggi juga dampaknya pada janin yang dikandungnya.
Memang seperti apa muntahnya itu? Apakah benar-benar parah?
Muntah yang saya alami tidak seperti muntahan pada umumnya, saya yakin teman-teman pasti tahu kalau muntahnya begitu seperti apa. Memang pada awalnya muntahnya itu persis seperti muntah biasa, namun saya merasa semua isi perut benar-benar dikeluarkan dan dikuras habis. Bahkan makanan yang baru saja dimakan sedikit pun langsung keluar. Semakin lama muntahannya itu berubah warna agak kuning (seperti muntahan asam lambung), lama-lama bercampur dengan darah namun masih agak pink, lama-lama benar-benar bercampur dengan darah segar dan berakhir dengan warna merah tapi lebih ke warna coklat gelap gitu. Rasanya? Hohoho, jangan ditanya lagi benar-benar sakit dan makanya setiap saya muntah sampai sering terjatuh karena tidak kuat menahan badan. Ya teman-teman bisa bayangkan ketika kita merasa tubuh kita sudah benar-benar ambruk dan tidak ada kekuatan lagi untuk berdiri, ya seperti itulah rasanya.
Awalnya saya, suami, dan keluarga menganggap bahwa ini hanya maag biasa. Karena memang sebelumnya saya punya riwayat maag. Setiap habis muntah luar biasa itu memang terasa sangat haus, tapi ada perasaan takut untuk minum, ya takut kalau akan muntah lagi. Jadi kalau saya mau minum setelah muntah harus menunggu beberapa menit. Oh iya untuk minum saya hanya bisa minum air hangat saja (versi saya kalau kata suami itu agak panas). Mungkin di luar sana ada bumil-bumil yang merasa jauh lebih enak kalau minum air es yang hampir beku atau air dingin. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak minum obat selama hamil walaupun sebelumnya saya sempat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter obat maag apa yang paling aman diminum oleh bumil, khususnya saya sendiri.
Kapan pertama kali ketahuan kena hyperemesis gravidarum?
Waktu itu suami lagi dinas keluar kota. Kurang lebih waktu masuk usia kandungan 8-9 weeks. Mulai merasa mual muntahnya tidak seperti biasanya dan menganggap ini berlebihan. Sehari bisa muntah paling sedikit 6 kali dan paling banyak 8 kali muntah. Teteh (yang sulung) mulai curiga dengan beberapa gejala yang ditunjukkan oleh saya pada saat itu. Kebetulan dia selain seorang dokter gigi dia juga termasuk hyperemesis gravidarum survivor. Jadi kurang lebih dengan pengalaman sebelumnya, dia memiliki pemahaman yang cukup tentang hyperemesis gravidarum. Beberapa kali teteh ngajak untuk periksa ke dokter atau kalau perlu langsung saja masuk ke IGD masalah nantinya bakalan di rawat inap atau tidaknya itu urusan belakangan. Di tambah saya semakin melow karena saya tidak ingin mengalami hal yang sama seperti teteh dulu (sekitar tahun 2001 dia bolak balik ke rumah sakit di rawat inap karena mengidap hyperemesis gravidarum) dan pendukung utama yang membuat saya melow adalah suami yang berada di luar kota. Ya, kerjaannya nangis terus dan tentu saja kalau setiap nangis diakhiri dengan muntah yang rasanya ga enak itu.
Waktu suami masih di luar kota saya minta dibelikan humidifier karena waktu saya baca dibeberapa artikel dan setelah konsultasi dengan dokter boleh menggunakan humidifier untuk membantu meredakan rasa mualnya itu. Okelah kalo saya merasa mual yang luar biasa atau setelah muntah segera saya hidupkan humidifier tersebut. Saya menggunakan cajuput essential oil yang dilarutkan ke dalam air. Essential oil itulah yang paling utama digunakan. Memang lumayan agak meredakan rasa mual yang luar biasa itu tapi tidak dapat menyembuhkan. Karena tingkat kekhawatiran suami sudah semakin tinggi akhirnya saat dia sudah sampai rumah memaksa saya untuk segera periksa ke dokter dan baiklah saya pun pasrah tidak peduli apakah nantinya akan di rawat inap atau tidak.
Bagaimana hasil pemeriksaan setelah pergi ke dokter?
Sebenarnya ada dua kabar utama yang diterima sekaligus pada saat itu. Kabar baik dan kabar buruk saya dan suami terima dalam satu waktu yang bersamaan.
Kabar baiknya: kondisi janin sangat sehat, kuat, dan semua kondisi kandungan sangat bagus sekali. Tidak ada kekurangan sedikitpun. Bahkan dokternya pun amazed melihat kondisi kandungan saya pada saat itu.
Kabar buruknya: saya positif mengidap hyperemesis gravidarum namun saya masih termasuk beruntung karena selalu menjaga minum jadi tidak sampai dehidrasi yang mengharuskan saya harus rawat inap. Saya hanya diresepkan obat untuk mengurangi rasa mual dan kalo maag kambuh. Namun jika dalam jangka waktu dekat itu saya masih mengalami hal yang serupa dan bahkan jauh lebih parah, langsung saja ke IGD sambil membawa surat cinta (rujukan).
Entah pada saat itu harus senang atau sedih karena menerima kenyataan itu dalam satu waktu yang bersamaan. Oh iya selain itu juga saya dirujuk juga ke ahli gizi untuk berkonsultasi mengenai pola makan yang harus diterapkan pada saat itu juga terutama selama trimester pertama. Sebenarnya asupan menu yang disajikan khusus untuk saya selama ini sangatlah sehat, tidak bertemu dengan yang berminyak atau goreng-goreng, bermicin, bersantan, pokonya yang bikin ngeri deh. Jadi selama ini saya hanya dihadapkan dengan menu yang serba dikukus, direbus, atau dipanggang. Kalaupun berbumbu hanya menggunakan garam saja tanpa ada bumbu yang lain, sehingga ahli gizi pun membantu untuk mengatur pola jadwal makannya saja dan variasi menu makanan yang harus masuk ke tubuh saya. Sejak saat itulah saya jauh lebih berfokus pada kesehatan janin dalam kandungan. Saya pun menanamkan pemikiran untuk tetap menjaga asupan makanan dan minuman walaupun hanya sedikit, yang penting tetap ada yang bisa masuk. Tidak peduli lagi apakah nantinya akan muntah atau tidak.
Kenapa waktu itu menunda periksa ke dokter?
Sebenarnya bukan karena Covid-19nya sih, lebih ke rasa khawatir dan takut mengalami hal yang serupa seperti teteh. Yaa yang paling utamanya saya tidak mau di rawat inap. Apalagi sekarang yang boleh menemai saat rawat inap cuma satu orang. Satu sisi inginnya ditemani suami tapi sisi lain suami pun harus kerja. Itu yang ada dipikiran saya pada saat itu jika ternyata saya harus sampai dirawat inap.
Kenapa saya bisa kena hyperemesis gravidarum?
Berdasarkan dari beberapa pendapat dokter yang pernah saya temui untuk konsultasi, termasuk beberapa teman saya yang berprofesi sebagai dokter juga, yang menjadi pendukung utama saya bisa kena hyperemesis gravidarum adalah karena sebelumnya sudah memiliki riwayat maag kronis. Dengan ada riwayat itulah peluang saya mengidap hyperemesis gravidarum semakin besar apalagi ditambah dengan pola makan sebelum hamil dan awal ketauan hamil (sebelum mengalami mual muntah) pola makan saya berantakan, makanan dan minuman yang masuk pun kurang baik. Oleh karena itu ketika awal promil memang sebaiknya sudah menerapkan pola hidup sehat, ya minimal dari asupan makanan atau minumannya saja dulu. Apalagi kalau sebelumnya punya riwayat maag ini bisa dijadikan sebagai proses healing dan setidaknya bisa memininalisir peluang kenanya hyperemesis gravidarum. Namun kalapun pada akhirnya tetap kena, setidaknya tidak separah yang saya alami. Benar atau tidaknya entahlah karena saya termasuk yang terlambat menerapkannya. Namun bisa dicoba untuk promil berikutnya ๐.
Oh iya saya mengalami hyperemesis gravidarum selama kehamilan trimester pertama dan trimester kedua. Sebenarnya trimester kedua juga tetap masih ada namun sudah mulai berkurang, tidak separah saat trimester pertama. Kurang lebih saat masuk usia kehamilan 23 weeks mulai agak enakan walaupun masih ada muntah dan ciri-ciri muntahannya pun kurang lebih masih sama seperti selama trimester pertama. Baru benar-benar mengalami nyaris tidak muntah sama sekali waktu mulai masuk usia kehamilan 24 menuju 25 weeks. Selain itu juga bisa merasakan makan yang jauh lebih nikmat tidak merasa mual ataupun muntah. Kalau istilah bahasa Sunda-nya itu mamayu. Hehehe.
Selama trimester pertama saya kehilangan berat badan sekitar 4-5 kg dari awalnya 65 kg. Untuk menaikkannya pun rasanya sangat sulit, hanya bertambah 0,5 kg saja dan itu pun juga turun lagi sebanyak 0,5 kg. Hahaha. Namun saat masuk usia 21-22 weeks agak mulai banyak naiknya tanpa BB turun lagi. Setidaknya berat badan pun naik ke berat badan sebelum hamil. Hehehe.
Sekarang bagaimana kondisi saya? Selain itu juga berapa usia kehamilan saya saat ini?
Alhamdulillah sekarang kondisi saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan sudah jauh lebih nyaman untuk konsumsi makanan atau minuman apapun. Tapi saya masih takut untuk konsumsi makanan atau minuman yang sebelumnya menyebabkan saya muntah hebat. Semoga saja nanti setelah melahirkan sedikit demi sedikit bisa kembali pulih seperti biasanya. Namun sejujurnya saya jauh lebih menyukai pola asupan makanan atau minuman seperti saat ini, merasa badan jauh lebih sehat daripada sebelumnya. Hehehehe. Oh iya saat ini usia kandungan saya 26 weeks 2 days.
Apakah saya termasuk hyperemesis gravidarum survivor?
Entahlah saya belum berani menyebutkan diri seperti itu, karena masa kehamilan saya belum berakhir. Hehehe.
Untuk bumil di luar sana semangat ya, terutama untuk new preggo mom. Tetap dijaga asupan makannya. Untuk buibu yang sedang dalam proses atau menuju proses promil dan kebetulan juga memiliki riwayat yang sama seperti saya, tidak ada salahnya untuk mencoba menerapkan pola hidup yang sehat, menjaga asupan makanan dan minuman serta menjaga olahraganya. Semoga dengan tulisan ini bisa menambah wawasan dan semangat untuk bumil-bumil dan bumil-to be. Ambil yang baiknya buang jauh yang buruknya ๐
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Komentar
Posting Komentar