Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat yaa. Tak lupa menyapa teman-teman-teman yang kebetulan sedang dalam kondisi tidak fit, semoga segera pulih paripurna dan beraktivitas seperti biasanya lagi. Aamiin.
Oh iya hari ini di Bandung lagi lumayan panas. Tapi panasnya masih dapat ditoleransi sih. Memang sekarang sudah memasuki musim kemarau. Kalaupun hujan yaa itu bonus, alhamdulillah. Biar agak adem sedikit. Hehehehe
Banyak sekali cerita yang sebenarnya ingin disampaikan. Tapi kayanya kurang memungkinkan karena yang ada ini bukan blog, tapi koran. Hahaha.Oke, sesuai dengan judul kali ini Drama Pasca Melahirkan, hmmm, apa itu? Mungkin terlintas dalam pikiran bahwa yang dimaksud itu adalah jadi sering bedagang, omongan sana sini yang mungkin saja bikin saya jadi cheer up atau malah jadi down, atau mungkin kena sindrom baby blues, atau apapun itu yang pada umumnya di rasakan oleh seorang ibu baru, apalagi baru pertama kali punya anak.
Pada dasarnya saya hanyalah manusia biasa yang juga bisa mengalami hal tersebut. Saya bukanlah manusia seperti super hero, kalo dibandingin sama remahan rangginang boleh lah. Wkwkwk. Banyak sekali perubahan yang sangat signifikan dalam hidup saya. Pada awalnya saya banyak bergerak ke sana kemari, sebisa mungkin mengisi kegiatan yang bermanfaat pada setiap waktunya. Bolehlah disebut pengacara (pengangguran banyak acara. hahaha). Namun pasca melahirkan semuanya drop dan saya pun benar-benar bergantung pada suami dan mamah. Tapi mungkin saja saya yang terlalu berhati-hati atau mungkin saya-nya yang masih lemas, entah juga, sebisa mungkin saya meminimalisir aktivitas karena yang ada dalam pikiran saya adalah let's speed recovery.
Beberapa hari di awal-awal pasca melahirkan, semua masih aman-aman saja. Tapi yaa begitu makin lama dengan tujuan ingin "nengok" mulailah banyak kalimat-kalimat yang perlu saya saring atau bahkan tidak didengar sama sekali. Mulai cara menyusui bayi (kebetulan saya langsung bisa karena sering memperhatikan sepupu-sepupu saya waktu baru punya bayi, tapi memang bayinya masih belajar menyusu), sampai menyinggung tentang asi yang tidak keluarlah, asinya sedikitlah, asinya ga enaklah, dan masih banyak lagi. Seperti pada umumnya. Namun satu sisi saya merasa beruntung karena sejak awal saya memang berkomitmen tidak ingin memposting anak saya terlalu over. Alasannya adalah saya merasa tidak punya hak untuk melakukan hak itu, serta saya ingin menjaga privasi anak saya. Jadi hal-hal unik itu biarlah itu menjadi kenang-kenangan untuk saya dan suami saya.
Berawal dari omongan tidak enak tentang asi itu atau mungkin kebetulan saya minum asi booster m*m u*ng (serius lupa kalo ini asi booster, karena yang ada dalam pikiran adalah "wah bagus. ini ada kandungan ekstrak ikan gabus. bagus buat pemulihan pasca melahirkan.") alhamdulillah Allah kasih rezeki lebih. Sebenarnya saya tidak punya trik khusus cara agar produksi asi jadi banyak. Saya hanya mengikuti saran dari ahli gizi dari rumah sakit tempat saya melahirkan kemarin. Mulai dari perbanyak makan sayuran, terutama sayuran hijau (kalau bisa cara masaknya dibening dan kalopun berbumbu cukup dengan garam saja), diperbolehkan kalo mau konsumsi suplemen apapun, tapi jangan mengikuti petunjuk dari kemasan, baiknya dalam sehari cukup konsumsi 2-3 tablet/kapsul perhari dan jika asinya sudah keluar cukup konsumsi 1 tablet/kapsul perhari. Kenapa jangan mengikuti petunjuk dari kemasan? Alasannya karena untuk mencegah mastitis (googling aja nanti muncul kotak kecil di sana dan ada penjelasan secara singkat tentang mastitis). Nah di sinilah keteledoran saya, tapi sih saya masih belum tau apa produksi asinya sudah banyak atau belum tapi memang sesekali saya sering merasa nyeri, karena hal tersebutlah saya masih tetap konsumsi 2 kapsul perhari kurang lebih selama 4 hari. Tentu saja pada hari berikutnya saya merasa kesakitan.
Berawal karena dari salah satu sisi muncul lecet dan luka (bahkan kalo asinya netes berubah jadi warna pink dan saya khawatir itu bercampur dengan darah) saya tidak menyusui pada bagian yang luka tersebut. Saat itu saya berpikir begini, "Gapapa bagian ini buat nanti malem aja.". Tapi ternyata produksi asi tidak seperti itu saudara-saudara, tidak bisa kita atur sesuai dengan keinginan kita 😅 Yaps, pada hari itu saya mulai terasa demam, kedinginan sampai mengigil dan meriang, serta pusing-pusing. Terus berlanjut sampai keesokan harinya di situlah puncaknya, biasanya saya selalu fast respon apapun yang disampaikan oleh suami, pada saat itu saya lebih banyak meringkuk ditanya ini dan itu tidak dijawab sama sekali, kalopun direspon saya hanya melihatnya saja dengan tatapan dingin setelah itu kembali meringkuk. Apa selesai sampai disitu? Tidak. Dari satu sisi keluarga menganggap saya mengalami seperti ini karena saya susah makan. Memang sih lagi agak susah makan dan itupun karena kondisi badan sedang tidak fit. Untuk bangun saja rasanya berat sekali dan saya cuma ingin tidur saja, istirahat. Bahkan ada yang lebih parah omongannya, menganggap bahwa saya tidak ikhlas menjalani kehidupan baru menjadi seorang ibu. Dalam hati saya malah bertanya seperti ini, "Dari mana dia bisa tau hal itu? Memang dia tau betul apa saya ikhlas atau tidak?" Bahkan sampai omongan "ASInya udah jelek makanya jadi ngebatu (PD jadi bengkak dan keras)." namun dalam hati saya malah menanggapinya begini, "Ini ASI bentuknya cair loh. Engga kaya susu bubuk kalo terbuka bisa jadi ngebatu." Daaaann masih banyak omongan lainnya yang sungguh menyayat hati. Tapi saya tidak mau ambil pusing saya anggap angin lalu saja atau ibarat kucing yang lagi ngeong-ngeong ngajak ribut kucing lain. Kenapa saya menanggapinya sesantai itu? Alasan utamanya sederhana, saya tidak mau stress. Kalau saya stres itu akan berpengaruh pada produksi asi untuk bayi saya dan bahkan dapat berpengaruh ke bayi saya juga kalo saya-nya stres. Maka dari itu saya sengaja mempersempit circle saya selama 1,5 bulan pertama. Saya tidak mau melakukan hal yang tidak ada hubungannya bahkan belum ada studinya secara medis. Saya full mengikuti saran dari bidan dan dokter. HP pun saya fungsikan untuk main game, kalopun buka instagram saya buka akun yang biasa posting diskonan (makanan/minuman) atau buka akun mukbang. Hahahaha.
Apakah saya mengalami post-patrum distress syndrome atau pada umumnya dikenal dengan baby blues syndrome? (kenali gejalanya di sini) Bisa dibilang tidak mengalaminya atau mungkin juga bisa dibilang nyaris mengalaminya namun dapat segera diatasi. Kenapa saya berani mengatakan tidak mengalaminya karena memang sama sekali saya tidak merasakan hal tersebut. Namun memang sempat merasakan sedih karena kena mastitis dan saya sempat mencoba memerah dengan tangan tapi tidak bisa sama sekali. Memang sempat kesal juga dengan salah satu keluarga saya karena menanggapinya malah dengan bercanda sedangkan emosi saya pada saat itu sedang kurang stabil (saya biasanya kalo lagi sakit memang agak sulit mengendalikan emosi (karena pusing) makanya saya selalu menjauhi HP dan kalopun saya buka hanya difungsikan untuk main game).
Namun berdasarkan pengalaman kehidupan awal saya menjadi seorang ibu benar-benar memberikan pelajaran yang sangat besar. Memang pada dasarnya saya memiliki karakter tidak ingin ikut campur urusan orang. Kecuali jika orang tersebut meminta bantuan saya dan ingin saya sedikit terlibat di dalamnya, tapi tetap sesuai dengan kapasitas dan kemampuan saya. Termasuk juga yang pada awalnya ingin menceritakan pengalaman pribadi saat pertama kali menjadi ibu, tapi malah berujung ngajarin kecuali memang orang tersebut yang meminta untuk diajarkan. Toh saya juga masih ibu baru, yaa masih perlu belajar banyak juga dan saya tidak mau sok tau urusan apapun. Seperti terkadang ada yang bertanya, contoh ada teman saya yang mengalami mastitis, saya sempat tanyakan apa sudah pernah cek ke dokter, dan memang kebetulan belum lalu dia minta saran dari saya. Tentu saya tegaskan terlebih dahulu di awal seperti ini, ini pengalaman saya dan ini disarankan oleh dokter/bidan, dari situ mulailah bercerita apa yang disarankan oleh dokter/bidan ke saya. Tujuannya tentu saja agar tidak ada salah penanganan. Karena setiap tubuh orang bisa berbeda pula cara menanggapinya, baik secara fisik maupun psikis.
Let's learn to be selective using words, especially to new moms.
Terimakasih banyak sebelumnya sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya. Secara tidak langsung sebenarnya tulisan ini juga kelanjutan dari tulisan sebelumnya saat menghadapi persalinan. Semoga ada beberapa yang bisa teman-teman pelajari yang baiknya dan buang yang jeleknya. Sampai berjumpa ditulisan berikutnya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar
Posting Komentar