Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Halo apa kabar teman-teman semua? Semoga tetap selalu dala keadaan sehat wal afiat, dan untuk teman-teman yang kebetulan sedang dalam kondisi kurang fit, semoga lekas pulih kembali dan beraktivitas seperti sedia kala. Semangat selalu 💪💪
Seperti biasanya saya akan melanjutkan cerita pengalaman melahirkan. Tapi kali ini agak lama saya post, karena kemarin sempet ngedrop ditambah dengan diare. Rasanya lemas sekali. Buat turun dari kasur pun rasanya terlalu berat. Mungkin waktu itu saya kurang mengontrol makanan yang kebetulan sudah terlalu lama, jadi saja saya kena diare. 😭 Oh iya yang belum baca bagian 1 baiknya dibaca dulu ya, ini linknya https://bit.ly/2VxRFdA dan yang belum sempat baca bagian 2 juga sebaiknya dibaca dulu yang bagian 2, ini linknya https://bit.ly/3kdK9wR
Akhirnya saya mendapatkan rumah sakit setelah mendapatkan rujukan dari rumah sakit kedua yang saya kunjungi. Saya tiba di RSIA Al Islam Awibitung sekitar pukul 09.00, sebenarnya sudah cukup lama juga sih rembesan air ketubannya. Saya hanya khawatir air ketubannya menjadi kering karena terlalu lama. Sedikitpun tidak terpikirkan lagi ngeri ato nyerinya saat melahirkan, dijahit atau tidaknya, sudah tidak peduli lagi. Saya hanya memikirkan kondisi bayi dalam perut dan jika sudah waktunya saya meminta ke Allah agar bayi dipermudah dan dapat segera keluar.
Sekitar pukul 10.30 saya sudah diinfus. Agar saya dan bayi tidak kekurangan cairan. Saat itu saya masih bisa tertawa, ngobrol dengan santai, buka chat whatsapp, masih bisa angkat telepon/video call, bakan masih bisa posting foto di instagram (ini yang saya posting https://bit.ly/2WigB9f) hahaha. Setelah dzuhur dicek pembukaan ternyata baru masuk pembukaan kedua. Disitu saya bingung, ini hal yang wajar ato tidak. Memang baca beberapa artikel dan sudah dikonfrimasi oleh bidan yang membantu menangani saya kalo kelahiran anak pertama biasanya lebih lama. Agak sedih sih sebenarnya saya kira saya akan mengalami seperti orang lain, tidak terlalu merasakan atau bahkan sama sekali tidak merasakan kontraksi dan saat dicek pembukaan sudah banyak, tapi qadarullah Allah berkehendak lain ingin saya merasakan dan belajar bersyukur disetiap rasa mulas yang datang. Kemudian, sesuai prosedur yang sudah disepakati saya ditambahkan infusannya dengan vitamin, zat besi, dan kandungan lainnya yang dapat membantu melunakkan rahim dalam kantong infus itu. Selain itu juga saya dipakaikan balon (induksi balon) agar mempercepat proses pembukaan. Rasanya? Sungguh nikmat sekali. Tapi sekali lagi yang saya pikirkan hanyalah ingin bayi segera keluar, karena saya takut dia kenapa-kenapa. Yap kita tetap harus tenang, makanya waktu itu saya minta suami jangan pergi kemana-mana, setiap saya merasa mulas luar biasa saya minta dibimbing untuk atur nafas. Selebihnya saya minta untuk dibimbing dzikir dan baca beberapa surah dalam juz 30.
Semakin lama kontraksi itu semakin datang. Tentu saya penasaran ini sudah sampai pembukaan berapa. Akhirnya balon itu lepas ketika saya ingin BAK. Agak panik sih sebenarnya karena saya merasa kok kaya mau copot, sedangkan saya malah ingin menahannya. Saat dicek ternyata baru masuk pembukaan ke 5 dan itu terjadi sekitar 45 menit sebelum maghrib. Bidan yang membantu saya pun agak kebingungan karena ini prosesnya lama sekali. Setiap kontraksi datang rasanya memang seperti yang orang-orang bilang, sakit sekujur tubuh. Tapi saya sempat mengikuti yoga (kalopun cuma di youtube) kunci utama saat kontraksi datang adalah cara mengatur nafas dan sebisa mungkin nafasnya itu harus nafas panjang dan dalam. Untuk saya itu berefek besar sekali, karena kalo mungkin dulu ga pernah ngikutin yoga itu saya kebingungan cara mengatur nafasnya. Hehehe.
Semakin lama semakin malam, disitulah kontraksi semakin sering datang. Tapi tenang, justru inilah rasa yang akan dirindukaan nantinya. Hehehe. Sampai Isya pun pembukaan masih mentok di 5. Jujur disitu saya sedih kenapa masih pembukaan 5 sedangkan orang di sebelah saya (saat di ruang observasi) pas datang dia sudah pembukaan 4 dan ketika diceknya hampir barengan dia sudah pembukaan 7. Yaps saya mulai meneteskan air mata karena mulai sedih dan sedikit frustrasi. Setiap dicek pembukaan pun masih mentok di pembukaan 5 sedangkan sekitar jam 11 malam, orang di sebelah saya sudah pindah ke ruang bersalin sedangkan saya yang datang dari jam 09.00 belum juga masuk ruang bersalin. Agak kesal karena proses pembukaannya lama dan juga kesal karena kenapa saya tidak mengalami seperti mereka. Buru-buru saya istigfar karena saya takut jika perasaan itu terus berlanjut akan berpengaruh pada bayi. Saya pun terus mensugesti, "Ayo kita sama sama berjuang ya, Nak?" sambil elus-elus perut. Semalaman sama sekali saya tidak tidur, terutama saat kontraksi datang. Baru bisa tidur agak enak selepas subuh.
Saat itu bangun sekitar jam 07.00 keesokan harinya (tanggal 1 Juni 2021). Itu pun terbangun karena kembali terasa kontraksi yang lebih nikmat dari sebelumnya. Kebetulan saat itu dokter visit dan sekaligus cek pembukaan. Alhamdulillah masuk pembukaan 7. Jujur saya sangat senang mendengarnya. Tapi waktu melihat jam saya kembali murung, kenapa saya lama sekali sampai pembukaan 7. Dokter dan bidan pun terus menyemangati saya kalaupun kondisi fisik saya sudah sangat tidak memungkinkan. Akhirnya saya pun kembali dicek total sama seperti saat awal masuk, termasuk salah satunya rekam denyut jantung bayi. Alhamdulillah kondisinya bagus, dicek dopler dan usg pun bagus. Alhamdulillah bayinya dalam kondisi yang sangat kuat, jauh dari ekspektasi bidan dan dokter, hanya saja kondisi saya yang semakin kesini semakin melemah. Memang salah satu faktornya saya tidak makan, karena baru makan kalopun cuma sedikit saya kembali muntah. Persis sekali saat saya awal mengalami hiperemesis gravidarum. Muntahannya pun bukan cuma berwarna coklat pekat lagi, tapi hitam. Dan itu terjadi sejak malam.
Agak sedikit bingung, saya baru pembukaan 7 tapi sudah diminta untuk pindah ke ruang bersalin dan jujur itu tanda tanya besar. Karena jika saya perhatikan yang lainnya ketika masuk ruang bersalin itu saat sudah pembukaan lengkap atau pembukaan 9. Ternyata untuk berjalan saja saya tidak kuat, itupun suami saya menggusur agar saya bisa berpindah tempat. Tentunya dibantu juga oleh bidan. Berbagai cara dicoba agar pembukaan terus melaju. Mulai dari menggerak-gerakkan kaki dengan sangat lebar sampai dibantu dengan bola. Pegal sih memang, tapi sekali lagi ini semua untuk membantu memperlancar proses pembukaan.
Sekitar pukul 10.00 tinggal sedikit lagi. Yaps, sudah memasuki pembukaan ke 9. Saya sudah semakin lemas dan tidak kuat. Suami terus mendopping saya untuk minum air putih dan teh manis. Yaps, saya melahirkan hanya bermodal air putih dan teh manis. Hanya itu sumber tenaga saya untuk melahirkan. Alhamdulillah menuju pembukaan lengkap saya tidak menunggu terlalu lama, sekitar 20-30 menit. Sambil menunggunya pun saya berlatih untuk ngeden. Nah ini yang saya bingung, katanya melahirkan yang baik jangan ngeden tapi kok disuruh ngeden? Setelah dikonfrimasi bidan ngeden itu tetap perlu karena untuk membantu mendorong agar bayi bisa keluar. Oke disitulah saya bersiap untuk ngeden dan ternyata salah. Hehehe. Ngedennya itu tumpuannya ada di otot perut dorongannya. Kurang lebih seperti ngeden pas mau BAB. Kenapa saya kebingungan ngeden, padahal ngedennya itu seperti mau BAB? Karena saya sama sekali tidak pernah ngeden pas BAB jadi saya benar-benar kebingungan seperti apa ngedennya.
Alhamdulillah pukul 10.49 lahirlah bayi kami yang sering kami panggil Kabay saat masih dalam kandungan. Zubair Syawala nama Kabay yang kami berikan. Perjalanan yang sangat melelahkan tapi menyenangkan karena pada akhirnya saya bisa melahirkan sebelum dzuhur. Kenapa? Karena saya baru dikasih tahu sama bidannya, kalau sampai dzuhur juga masih belum maju pembukaannya saya akan dibawa ke ruang operasi. Itu artinya saya harus menjalani proses persalinan sectio caesaria. Sebenarnya mau seperti apapun proses persalinannya saya sudah tidak peduli, karena yang saya pikirkan adalah saya ingin anak saya lahir dengan selamat, sehat, tanpa kurang sedikitpun.
Kurang lebih seperti itulah pengalaman saya saat melahirkan. Tentu ini jangan dijadikan patokan. Tetap ambil hal-hal penting yang perlu dipelajari, selebihnya abaikan saja. Jangan jadikan proses melahirkan itu sebuah hal yang menakutkan, karena ada masanya kita akan rindu masa-masa kehamilan dan proses melahirkan. Dan itu sebuah fakta. Tetap semangat!!! Hehehe.
Sekian.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar