Cerita Persalinan (Bagian 1) - Kontraksi Asli atau Kontraksi Palsu?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo! Bagaimana kabarnya teman-teman? Semoga selalu sehat wal afiat ya serta diberikan kesehatan dan dijauhkan dari segala sesuatunya yang mungkin dapat menghambat aktivitas teman-teman semua. Tidak lupa saya menyapa teman-teman yang kebetulan sedang kurang fit, semoga lekas sembuh dan fit lagi sehingga dapat beraktivitas seperti biasanya.

Oke kali ini saya akan menulis tentang pengalaman saya saat menghadapi persalinan, dengan topik khusus yaitu kontraksi 😱. Perlu diingat, setiap orang tentunya mengalami kontraksi yang berbeda-beda. Ada yang tidak merasakan sakit yang luar biasa, sakit sedikit dan ada juga yang tidak mengalami sakit sama sekali. Namun pengalaman saya ini sedikitnya dapat dijadikan pelajaran oleh teman-teman yang mulai mendekati minggu-minggu persalinan. Minimal ada gambaran untuk membedakan kontraksi asli dan kontraksi palsu.

pict. source: google

Oke saya akan buat dalam bentuk cerita saja ya? Hehehe

Awal mulanya saya mengalami kontraksi yaitu ketika mulai memasuki usia kandungan antara 34 menuju 35 minggu atau 35 menuju 36 minggu (agak lupa 😅). Namun masih sangat tipis-tipis. Sempat agak khawatir karena takutnya melahirkan sebelum memasuki usia 37 minggu. Karena menurut berbagai sumber baik itu dari artikel, dokter obgyn dan bidan tempat biasa saya kontrol, jika melahirkan sebelum memasuki usia 37 minggu itu termasuk ke dalam kelahiran prematur. Biasanya bayi yang lahir prematur perlu masuk ke dalam inkubator. Huhuhuhu. Gimana ga sempet agak khawatir setelah ngalamin kontraksi tapi belum benar-benar tau yang dialami itu kontraksi asli apa kontraksi palsu.

Seiring berjalannya waktu ketika memasuki usia kandungan akhir 36 minggu mulai bisa membedakan sedikit-sedikit kontraksi palsu dan kontraksi asli. Kunci utama (versi saya) ketika kontraksi palsu itu datang mulai coba bergerak atau berganti posisi, jika kontraksi yang dirasakan hilang dan tidak terasa lagi berarti itu kontraksi palsu. Sejak mulai mengalami kontraksi palsu itu saya mulai makin rajin olahraga, minimal jalan kaki, namun saya lebih sering senam atau yoga. Kebetulan saat itu di lingkungan saya sedang banyak kasus Covid-19 jadi agak ngeri juga kalo saya olahraga jalan kaki di sekitaran rumah. Sebenarnya bisa saja sih olahraga jalan kaki di tempat lain (kebetulan perumahan tempat saya tinggal sangat dekat sekali dengan Summarecon Bandung) tapi entah kenapa saya punya feeling di sana pun pasti rame. Kalaupun mau olahraga di sana dari rumah harus pergi paling telat jam 06.00 karena jam 06.30 sudah mulai agak rame dan saya ga mau olahraga di tempat keramaian.

Semakin lama semakin sering saya mengalami kontraksi palsu. Sehari bisa 3 sampai 5 kali mengalaminya. Sejak saat itu saya mulai mencari aplikasi penghitung kontraksi di playstore yang sesuai dengan kebutuhan saya.

mohon maaf gambarnya seperti ini karena saya screenshoot dari laptop. hehehe

Pertimbangan saya pada akhirnya memilih aplikasi ini yaitu bisa dilihat dengan sangat jelas interval kontraksinya, seberapa lama kontraksi itu dirasakan, dan ada tiga emotikon yang menggambarkan seberapa sakit kontraksi yang dirasakan. Yang menjadi perhatian utama saya adalah ketika interval kontraksinya sudah lebih teratur, lebih sering, dan waktunya semakin pendek (misal 5 menit sekali atau 2 menit sekali) akan ada peringatan agar kita segera pergi ke klinik atau rumah sakit. Mungkin diaplikasi kontraksi lainnya ada namun kebetulan saya kurang paham dengan aplikasi itu dan saya jauh lebih paham dengan aplikasi yang ini. Karena menurut saya aplikasi ini lebih sederhana dan sangat mudah dipahami.

Oh iya sekalian saya akan sisipkan juga aplikasi kontraksi yang umumnya dipake sama buibumil. Hehehe

lagi lagi saya screenshot dari laptop

Sebenarnya aplikasi ini juga sama-sama sederhana dan mudah dipahami serta digunakan. Namun sayangnya ketika saya mencoba aplikasi ini tidak ada notifikasi agar kita segera pergi ke klinik atau rumah sakit jika interval kontraksinya sudah semakin sering. Atau mungkin waktu itu saya kurang mengeksplor aplikasi ini ya? Hehehe. Yang punya pengalaman menggunakan aplikasi ini boleh dong dishare karena saya pribadi pun masih penasaran dengan aplikasi ini. Soalnya tampilannya benar-benar sederhana banget dan mudah digunakan.

Kapan saya mulai mengalami kontraksi asli?

Saat itu saya masih agak ragu, apa itu benar-benar kontraksi asli atau bukan. Tepat pada tanggal 30 Mei 2021 malam saya mulai agak sering mengalami mulas-mulas tapi dengan interval yang masih panjang. Sekitar 2 sampai 3 jam. Namun menjelang tidur kira-kira sekitar 1-2 jam yang saya rasakan. Tapi karena kepalang ngantuk berat jadi saya lebih memilih tidur. Wkwkwk

Tanggal 31 Mei 2021 tepat pukul 01.23 saya kebangun karena mau pipis. Sebenarnya sudah biasa sih kebangun tengah malam cuma mau pipis. Tapi saya ngerasa ada yang beda. Pas bangun saya merasa seperti ngompol dan sulit sekali untuk saya tahan. Di situlah saya mulai khawatir karena takutnya rembesan air ketuban karena sesekali saya merasa mulas-mulas seperti kontraksi. Saya mulai hitung kembali dengan aplikasi kontraksi tersebut dan ternyata intervalnya semakin dekat. Di situlah saya menyimpulkan bahwa itu kontraksi asli. Tentu saja saya panik karena takutnya ketubannya kering. Namun yang membuat saya lebih tenang adalah semakin lama jarak kontraksinya tidak secepat sebelumnya.

Setelah sholat subuh kontraksi pun terasa lebih sering. Fix disitulah saya sangat yakin bahwa itu kontraksi asli. Segeralah saya pergi ke IGD untuk cek. Ternyata benar rembesan itu air ketuban dan saya sudah langsung ditahan di rumah sakit. Sejak saat itulah saya mulai terus merasakan kontraksi asli.

Oh iya kunci utama rasanya kontraksi asli (versi saya) adalah semakin terasa sering rasa mulas-mulasnya, sekitar 5 sampai 1 menit atau mungkin paling lama sekitar 10 menit. Selain itu juga rasa mulas-mulasnya lebih teratur waktunya. Tidak seperti kontraksi pertama 5 menit kontraksi kedua 5 menit kontraksi ketiga 20 menit, tapi dari kontraksi pertama dan seterusnya dengan interval waktu yang sama.

Setelah benar-benar mengalami kontraksi asli, bagaimana selanjutnya? Ini akan saya tulis dicerita selanjutnya. Insyaa Allah nanti akan saya update lagi yaa, soalnya si bayiik sudah bangun. Hehehe.

Sampai jumpa di cerita persalinan bagian kedua.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.






Komentar