Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apa kabar teman-teman semua? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat ya. Mengingat lonjakan kasus COVID-19 semakin naik (kaya lagu naik ke puncak gunung), yuk kita berikhtiar, sama-sama kecangkan prokes apalagi dengan adanya kehadiran si varian delta yang katanya jauh lebih cepat penularannya. Kalo ga penting-penting banget mending kita stay at home saja, ga usah pergi keluar rumah. Paling kalo mau cukup berjemur sih, hehehe, (itu rutinintas pagi saya setelah ada bayi. hehehe).
Yaps! Sudah lumayan lama saya vakum menulis di blog. Kalau tidak salah terakhir menulis itu pas bulan April lagi super exitednya menyambut kelahiran si anak bayi yang kami panggil dia Kabay alias kakak bayi. Hehehe. Kalopun pas pertama kali tau hamil sempet agak konflik sedikit sama suami, kenapa harus dipanggil kabay. Hehehe.
Baru kali ini lagi saya bisa nulis lagi diblog karena punya peran baru sebagai ibu dan kesibukan baru ngurus bayi. Yaps. Tentu saja ini butuh penyesuaian yang membutuhkan waktu cukup lama (untuk saya pribadi). Kalopun sebelumnya sudah terbiasa mengurus bayi atau anak kecil, tapi pengalaman itu tidak cukup. Namun lumayan lah setidaknya tahu dan punya gambaran cara mengurus bayi. Hehehe
Cerita tentang persalinan tentu saja setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Mulai dari bingung membedakan kontraksi palsu dan kontraksi asli sampai akhirnya tahu rasanya kontraksi asli, getaran-getaran gelombang cinta yang dirasakan, lamanya menunggu laju pembukaan, sampai akhirnya persalinan dengan pervaginam tanpa induksi atau dengan induksi atau proses persalinan melalui sectio caesaria. Dulu pernah ada yang bilang kalo proses persalinan itu adalah hal yang akan terus diingat oleh wanita seumur hidupnya. Kenapa? Karena disitulah dia harus bertaruh nyawa dan itulah hal yang paling berharga seumur hidupnya. Ternyata ungkapan itu benar. Setiap melihat tumbuh kembangnya Kabay semakin ingatlah selama proses kehamilan sampai persalinan. Mungkin karena fitrahnya perempuan seperti itu sehingga saya pun mengalami hal tersebut.
Baiklah kali ini saya akan cerita tentang proses persalinan saya. Tapi mohon maaf jangan jadikan ini tolak ukur atau bahan hujatan. Sekali lagi perlu diingat bahwa setiap orang memiliki pengalaman persalinan yang berbeda-beda. Jadi ambillah sisi baiknya dan buanglah sisi buruknya.
Boleh dibilang saya sudah terbiasa hidup serba terorganisir jadi segala sesuatunya harus sudah benar-benar siap. Ya kalopun tetep sih ada beberapa yang ketinggalan juga. Hehehe. Sedangkan suami dia terbilang santai namun pasti. Kenapa saya ceritakan dulu hal ini, karena menurut saya ini salah satu hal yang paling krusial apalagi kalo melahirkan saat masa pandemi seperti sekarang ini. Sangatlah dibutuhkan pendapat dan pemahaman yang satu frekuensi. Terutama persiapan menuju klinik bidan atau rumah sakit bersalin. Hal ini yang sangatlah saya soroti. Persiapkanlah segala sesuatunya dari jauh-jauh hari. Maksimal pas udah masuk usia kandungan 8 bulan. Karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan melahirkan dan kapan kontraksi asli itu akan datang. Setidaknya saat memasuki awal trimester ketiga sudah dipersiapkan semuanya.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan tentu saja bukan cuma dokumen-dokumen, persiapan uang baik dalam bentuk cash maupun debit, perlengkapan bayi dan ibunya saja, tentu perlengkapan ayahnya juga. Siapkan saja dulu dari jauh-jauh hari biar nanti pas waktunya datang tinggal diangkut saja. Walaupun ternyata pada akhirnya melahirkan di klinik yang kebetulan tidak memiliki fasilitas rawat inap, setidaknya semua sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Tidak menutup kemungkinan bakal ada rujukan (biasanya langsung dirujuk ke rumah sakit bersalin) jika ternyata persalinannya ada penyulit. (semoga bunda-bunda yang lain diberikan kemudahan dan kelancaran selama proses persalinan. aamiin).
Berapa lama menunggu sampai akhirnya Kabay lahir?
Lebih dari seharian. Hehehe. Waullahu 'alam apa penyebabnya namun penjelasan dari bidan dan dokter obgyn itu disebabkan kurang lenturnya otot-otot rahim dan area sekitarnya. Yaps, memang sih saya terbilang malas berolahraga. Kalopun sering yoga di youtube, ternyata itu saja tidak cukup. Tetap butuh olahraga lainnya lagi, seperti jalan kaki bahkan kalo perlu sampai lari-lari kecil. Tapi kalo ga kuat cukup jalan cepat saja. Semakin terasa rasa kontraksinya semakin terus dilanjutkan jalan kakinya, tidak boleh berhenti. Saat itulah bidan yang membantu menangani persalinan saya menjelaskan alasan kenapa harus seperti itu karena ternyata itu membantu mempermudah proses persalinan pervaginam, otot-otot rahim pun tidak kaku. Selain itu juga bidannya pun menjelaskan itu juga yang menjadi salah satu penyebab proses persalinan caesar (kurangnya olahraga sehingga laju pembukaan sangat lama dan menyebabkan terjadinya serangan jantung).
Hampir caesar. Yaps. Itulah yang diceritakan oleh bidannya karena laju pembukaannya yang sangat lama. Namun alhamdulillah pada pukul 10.49 akhirnya Kabay lahir juga. Huhuhu. Akhirnya perjuangan menikmati nyerinya kontraksi selama kurang lebih selama 8,5 jam terbayar sudah saat melihat (kalopun burem karena ga pake kacamata) dan mendengar suara tangisannya. Bahkan saat diobras pun sama sekali ga kerasa nyeri. Mungkin karena sebelumnya sudah merasakan nyeri yang luar biasa jadinya pas dijait sama sekali ga kerasa apa-apa. Sebenernya ada sih tapi cuma kerasa tipis-tipis.
Oh iya, saya melahirkan di RSIA Al Islam Awibitung. Alhamdulillah Allah izinkan saya melahirkan di rumah sakit yang sangatlah kental basic agamanya (Islam). Dulu saya pingin banget melahirkan di RS Al Islam bypass (Soekarno Hatta) Bandung. Tapi karena pandemi ini rumah sakit yang saya inginkan itu penuh dan akhirnya saya pasrah dan meminta pihak rumah sakit saja yang bantu carikan rumah sakit yang tersedia bed untuk saya melahirkan. Alhamdulillah dipermudah segala urusannya itu. Kalaupun yaa rumah sakitnya memang agak jauh dari rumah tapi tidak apa-apa yang penting Kabay lahir dengan selamat tanpa adanya kurang sedikitpun.
Kapan pertama kali merasakan kontraksi asli?
Saya pun tidak tahu kapan tepatnya. Namun yang saya ingat sebelum tanggal 31 Mei 2021 memang sudah mulai sering terasa kontraksi, tapi itu kontraksi palsu. Jadi setiap terasa adanya kontraksi saya benar-benar santai. Tapi pada tanggal 31 Mei 2021 sekitar pukul 01.30an saya tetiba merasa ingin BAK (sebenernya udah biasa juga sih kebangun tengah malam cuma mau BAK). Saat bangun saya bingung kenapa saya ngompol, ditahan pun ga bisa sama sekali. Benar-benar kebingungan. Sampai akhirnya benar-benar bisa ditahan dan saya pun BAK. Tentunya saya panik karena selain terasa sangat basah disitulah adanya bercak darah. Ternyata itu rembesan air ketuban.
Baiknya ketika sudah terasa adanya rembesan air ketuban segeralah pergi ke bidan atau IGD. Minimal bisa tau sudah ada pembukaan atau belum. Kalau sudah ada pembukaan jangan lupa tanyakan sudah masuk pembukaan berapa. Jangan dibiarkan terlalu lama karena khawatir kering.
Kenapa bisa sampai selama itu saya melahirkan?
Waullahu 'alam. Namun yang paling jelas adalah memang sudah ditakdirkannya seperti itu dan harus melalui proses itu. Awalnya memang saya termasuk yang pro caesar karena mikirnya ga bakalan ngerasain sakitnya kontraksi. Setelah dipikir-pikir saya akhirnya beralih haluan menjadi pro normal dengan pertimbangan proses pemulihan yang jauh lebih cepat. Dan Allah izinkan proses persalinan yang saya jalani dengan waktu yang lama untuk menikmati setiap gelombang cinta yang datang serta diiringi dengan dzikir untuk selalu senantiasa mengingat Allah.
Kenapa hampir caesar?
Intinya begini (karena kalo inget-inget yang dijelasin sama bidan cukup panjang), karena saya menempuh waktu persalinan yang sangat lama (sampai seharian lebih). Maka dari itu jika dzuhur belum lahir juga, dokter dan timnya pun memutuskan untuk caesar. Mengingat dokternya pun saat melihat saya yang sudah terkulai sangat lemah sekali. Bahkan untuk pindah ke ruang bersalin pun saya sampai digusur oleh suami yang dibantu juga oleh bidan. Saking sudah benar-benar lemas sekali dan tidak ada tenaga. Makan pun tidak enak rasanya apalagi minum yang notabenenya cuma tinggal telan saja. Namun akhirnya Allah izinkan saya melahirkan dengan proses normal dengan bermodal minum dua gelas teh manis agar saya punya tenaga. Hihihi
Mohon maaf jika tulisan kali ini berantakan urutannya karena yang saya tulis hanya yang sekeingetnya saya saja dan dicampur dengan harus bolak-balik antara laptop dan bayi. Hehehe.
Semangat para buibu hamil yang akan segera menjemput kelahiran anak bayi :)
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Komentar
Posting Komentar