Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo teman-teman semua! Apa kabarnya? Semoga selalu sehat wal afiat ya! Untuk teman-teman yang kebetulan sedang kurang fit atau kurang enak badan, semoga lekas pulih ya. Aamiin yaa rabbal'alamin.
Hari ini saya bener-bener excited banget karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Yeeaayyy!! Cuma bedanya Ramadhan kali ini agak sedikit sedih campur was-was. Sedih karena Ramadhan taun ini udah ga ada papah yang biasanya suka request bikinin takjil aneh-aneh versi saya. Hahaha. Mulai dari es jelly, pudding, buko pandan, es cincau tapi dari nutr*j*l, atau es coco pandan dari nutr*j*l juga. Sekarang sama sekali ga ada yang request itu kecuali kalo saya yang mau. Tapi mungkin buat bikinnya udah ga bisa sendiri lagi butuh bantuan dari suami ato mamah, karena perut yang semakin membesar dan aktivitas pun tidak bisa seaktif dulu. Huhuhu. Nah yang bikin was-wasnya adalah bisakah saya berpuasa? Kalopun secara hukum dalam Islam untuk ibu hamil memang diberikan keringanan, boleh untuk tidak berpuasa. Tapi sisi lain ada gejolak batin pingin banget sekali aja bisa puasa full kaya dulu lagi. Mungkin agak egois ya kedengerannya, dulu sebelum nikah pernah punya cita-cita pingin banget bisa puasa full lagi kaya waktu masih kecil, sebelum haid. Waktu itu terpikirnya begini, "Bisa kok. Nanti pas hamil pasti bisa puasa full. Kan ga bakalan haid." Tapi sekarang setelah hamil malah yang dipikirinnya, "Kalo puasa janinnya kuat ga ya? Ga bakalan kenapa-kenapa kan? Ga bakalan terjadi sesuatu kan?" Pokonya semua yang ada dipikiran itu fokusnya ke anak yang masih di perut.
Suami sebenernya totally support kalo saya tetep mau puasa. Tapi itu dia saya kedistract sama beberapa bacaan diartikel dan omongan orang, tetangga, dan netizen (hahaha) yang menyatakan kalo lagi hamil mending ga puasa, soalnya bakalan haus ato laper terus. Tapi sisi lain saya bertanya ke teteh, karena kebetulan dulu waktu dia hamil anak kedua dia sedang hamil besar (trimester ketiga) dan kebetulan banget kan, puasa kali ini aku lagi dalam masa trimester ketiga juga. Jadi saya pikir ada trik-trik yang bisa saya pelajari dari dia. Selain itu juga adik sepupu dia juga berpuasa malah waktu trimester kedua. Tentunya saya kepoin dong, semuanya ditanyain, semua tips dan triknya. Apa saja yang bisa saya pelajari dari dia. Siapa tau saja ada yang bisa coba saya terapkan.
Selain pengalaman dari beberapa orang di sekitar kita dan omongan orang-orang, baik itu dari suami, orang tua, keluarga, tetangga, bahkan netizen sekalipun (wkwkwk), tetap saja kita tetap harus konsultasi dengan ahlinya, baik itu dokter obgyn maupun bidan sekalipun. Kenapa? Memang benar kita yang paling tahu kondisi tubuh kita, tapi jangan takabur kita juga butuh bantuan orang lain yang memang ahli dalam bidangnya. Dokter obgyn atau bidan pasti sudah melalui tahapan-tahapan pemeriksaan terhadap tubuh kita, maka dari itu muncullah saran-saran tersebut. Saya pun pada awalnya termasuk yang tidak dianjurkan berpuasa full oleh dokter maupun bidan karena sebelumnya punya riwayat hyperemesis gravidarum dan juga maag sering kambuh. Kalaupun pola makan saya termasuk yang sangat bagus, tapi tetap saja dikhawatirkan nutrisi yang diserap oleh janin itu kurang. Maka setelah mendapatkan saran puasanya selang sehari, saya pun kembali dirujuk ke dokter ahli gizi 😔 Tentu saja alasannya untuk mendapatkan solusi dan saran nutrisi apa saja yang harus saya penuhi selama berpuasa nanti.
Terkesan lebay? Mungkin untuk sebagian besar orang berpendapat seperti itu. Tapi bagi saya ini merupakan hal kecil namun sangat penting dan banyak sekali bumil maupun orang-orang mengabaikannya. Memang benar orang yang sedang hamil itu bukanlah orang sakit, namun untuk urusan nutrisi tentu butuh perhatian ekstra. Bukan artinya harus sekali makan harus dua porsi, ini persepsi yang salah (kata dokter gizi saya). Justru jumlah nutrisi seperti karbohidratnya, proteinnya, vitamin, mineralnya, dan kandungan lainnya itu yang perlu diperhatikan dan mungkin saja jumlahnya lebih besar dari porsi biasanya kita makan.
Kapan saya konsultasi dengan dokter atau bidan?
Usahakan sebelum bulan Ramadhan. Seperti yang saat ini saya lakukan, Ramadhan kan bulan depan, nah bulan ini konsultasikan dengan dokter boleh atau tidaknya berpuasa. Minta tips dan triknya agar dapat berpuasa dengan lancar. Kalo perlu tanyain aja semuanya sampai akhirnya kita benar-benar dapat pemahaman yang lebih dan kita pun dapat menentukan ikut puasa atau tidaknya. Selain itu juga tanyakan juga kapan kita harus berhenti berpuasa, tanda-tanda bahaya apa sajakah yang perlu diperhatikan. Kalau saya dikasih tahu beberapa hal yang perlu diperhatikan (tanda bahaya) jika saya jarang pipis, warna urine menggelap (warnanya ga bagus), terasa jauh lebih cepat lelah, dehidrasi, pusing, mual, ingin muntah, gerakan janin melambat (tidak seaktif biasanya), ada rasa-rasa seperti mau pingsan, dan asam lambung naik (apalagi sampai muntah asam lambung). Jika merasakan seperti itu harus segera berbuka dan jangan dilanjutkan berpuasa.
Namun ada hal yang perlu diingat kembali, bahwa setiap bumil mengalami kondisi kehamilan yang berbeda-beda. Jadi tidak dapat semuanya dianggap sama. Tetap perlu konsultasi terlebih dahulu dengan ahli medis yang memang expert dibidangnya. Bukan hanya sekedar kata si A, si B, si C, kata ibuku, kata ibumu, kata tanteku, kata tantemu. Pengecualian mereka memang dokter obgyn atau bidan yaa, boleh dipertimbangkan secara matang-matang.
Oke, cukup sekian tulisanku hari ini. Karena kebetulan inilah yang saya dapatkan barusan banget dan saya anggap benar-benar penting dan sangat perlu untuk dibagikan kepada readers. Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar
Posting Komentar