Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo sahabat semua! Apa kabar? Semoga selalu sehat wal afiat ya. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan baik secara fisik maupun secara psikis. Untuk teman-teman yang kebetulan ketika membaca tulisan ini sedang kurang fit, semoga lekas pulih yaa. Semangat selalu! 😊
Kali ini yang akan saya bahas topiknya agak sedikit menyentuh ke parenting. Yaps. Topik ini sengaja saya angkat karena beberapa hari kemarin saya mengalami kejadian unik yang menurut saya sangat penting sekali untuk kita pelajari bersama. Sekalian juga saya mengingat kembali beberapa materi yang dulu pernah dipelajari di bangku kuliah kemarin (saat saya studi lanjutan di UPI). Oh iya sebelumnya saya pernah posting tentang ini di twitter, tepatnya yang saya amati secara tidak langsung (link https://twitter.com/dewisuciatia/status/1369077840331771908?s=20).
Apakah teman-teman pernah melihat anak yang menangis sampai seperti gambar di atas?
atau seperti ini?
atau seperti ini walaupun sedang bersama orang tuanya?
atau mungkin seperti ini?
atau mungkin sebelumnya teman teman pernah melihat video ini baik di youtube, instagram, facebook, twitter, atau sosmed lainnya (link https://www.youtube.com/watch?v=5_kZHBFlFSM)
Oke mari kita bahas tentang tantrum 😊
disclaimer: Oh iya untuk beberapa teman-teman yang membaca tulisan ini, mohon perlu dipahami sekali lagi. Bahwa apa yang saya tulis ini berdasarkan teori dan materi yang pernah saya dapatkan selama kuliah yang memang belum dapat terealisasi secara sempurna, namun beberapa pengalaman dan pengamatan saya di lapangan yang pada akhirnya saya dapat mensinkronkan antara teori dan praktek.
Sebenarnya tantrum itu apa sih? Tantrum merupakan istilah psikologi yang artinya mengamuk atau bisa juga didefinisikan sebagai marah, bisa juga didefinisikan sebagai murka, atau luapan emosi negatif dalam bentuk amarah. Sama seperti kita, ada masanya bayi, balita, anak-anak pun dapat mengalami tantrum. Jadi kalimat, "Ga boleh marah-marah." "Kenapa kamu malah marah-marah?" "Ga boleh gitu." dan masih banyak kalimat lain dan kalimat itu menurut saya kurang tepat untuk disampaikan kepada anak. Ada masanya anak perlu mencurahkan segala bentuk emosi yang dirasakannya. Mereka perlu mencurahkan energinya itu dan memang secara tidak langsung anak pun mempelajari segala bentuk emosi itu. Namun yang paling penting adalah cara kita memberikan pengertian kepada anak.
Beberapa tips menghadapi anak ketika sedang tantrum sebenarnya sudah disebutkan ya di link video youtube di atas. Selain itu untuk menghadapi anak sedang tantrum di area publik, teman-teman bisa mempelajari yang pernah saya amati dan pernah saya share di twitter (linknya ada di atas). Namun secara umum cara menghadapi anak sedang tantrum baik di area pribadi (rumah) maupun di area publik kurang lebih sama saja. Berikut saya tuliskan poin-poin penting cara menghadapi ketika anak sedang tantrum.
- Tetap Tenang. Jangan Ikut Terbawa Tantrum
Kenapa begitu?
Pernah tidak kita khilaf ketika anak sedang tantrum yang ada malah kita marahi, bentak, atau mungkin suara atau nada kita jauh lebih tinggi dari si anak? Percayalah, semakin kita meninggikan suara, atau mungkin memarahinya, bahkan membentaknya, anak tidak akan mendengarkan kita sama sekali. Karena ketika anak yang sedang marah dan berteriak pun kita tidak akan dapat mendengarkannya dengan jelas. Walaupun kita memaksa anak untuk mendengarkan terlebih dahulu apa yang kita sampaikan namun dengan berbagai macam nada suara, anak tidak akan mendengarkan dengan baik. Apalagi kalau dengan nada yang tinggi ya dan mungkin lebih parahnya lagi dengan kekerasan fisik, selain tidak dapat mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan oleh kita, tentunya akan mengakibatkan rasa takut yang mendalam dan bahkan jika hal ini selalu di alami oleh anak, akan menimbulkan rasa kecemasan. Jika hal tersebut dibiarkan tentu saja anak akan memiliki memori yang buruk terhadap kita. Sebagai contoh apalagi kalau anak sudah sampai bilang begini, "Nanti Bunda marah." atau "Nanti Ayah marah." tentu kalimat ini disampaikan dengan adanya rasa cemas walaupun mungkin tidak terlalu tampak. Dari kalimat tersebut secara tidak langsung anak menyimpan memori bahwa jika dia melakukan sedikit saja kesalahan orang tuanya akan memarahinya.
Apakah teman-teman pernah mendengar istilah api dibalas api maka akan semakin membara, namun api dibalas dengan air maka akan semakin padam. Saya menyebutnya ini istilah pemadam kebakaran, karena petugas yang sedang memadamkan api tentu menggunakan air kan sebagai media utamanya bukan menggunakan yang lainnya 😂 Begitu juga dengan luapan amarah. Jika kita menghadapi anak yang sedang tantrum dengan amarah juga, otomatis tingkat amarah anak pun akan semakin tinggi juga. Biarin aja nanti dia cape sendiri. Hmm, iya juga sih memang. Tapi jangan sampai diacuhkan begitu saja, karena jika hal tersebut sampai terjadi anak akan menganggap bahwa dirinya sudah tidak berharga lagi, terutama dihadapan orang tuanya. Maka dari itu inilah yang menjadi penyebab utama ketika anak sedang tantrum kita tetap harus menghadapinya dengan tenang. Tapi susah ngelakuinnya! Ga gampang loh. Memang tidak mudah, namun tidak ada salahnya kita terus mencoba dan menerapkannya. Selain itu juga perbanyaklah istighfar, Insyaa Allah semua lelahmu ketika mengurus anak akan menjadi ladang pahala untukmu 😊
- Mencari Tahu Penyebab Anak Menjadi Tantrum
Ini adalah poin utama untuk mengetahui alasan anak berbuat seperti itu. Namun sering kali kita salah dalam menerapkannya. Bertanya pada anak memang sah-sah saja, namun hindari kalimat tanya dengan awalan Mengapa atau Kenapa. Cukup gunakan kalimat tanya dengan awalan apa, siapa, kapan, di mana, dan bagaimana. Loh kok begitu? Karena jika kita menggunakan kalimat tanya dengan awalan mengapa atau kenapa anak tidak akan menjawabnya secara gamblang tentang apa yang dia rasakan pada saat itu. Selain itu juga kalimat tanya mengapa dan kenapa jika diajukan, anak akan menganggap bahwa kita tidak mengerti apa yang anak rasakan pada saat itu. Maka dari itu kalimat tanya 4W 1H sangat dianjurkan untuk digunakan ketika bertanya kepada anak sedang tantrum.
Bagaimana jika kita sudah tahu penyebab anak menjadi tantrum namun belum mengetahui secara spesifiknya? Tetap ajukan pertanyaan dengan awalan 4W 1H tersebut sebagai usaha kita untuk memahami apapun yang dirasakan oleh anak. Selain itu jangan lupa berikan alasan yang sangat logis dan dapat diterima serta dipahami oleh anak. Hati-hati ya jangan sampai keluar kalimat, "Kamu tuh ya sudah dijelaskan masih saja ga ngerti juga." Inilah yang perlu diintrospeksi lagi oleh kita. Mungkin saja memang pemahaman anak belum sampai ke sana, bisa saja dia seperti itu untuk mencari perhatian orang tuanya, atau bahasa yang kita sampaikan terlalu tinggi untuk anak sehingga sulit dipahami.
- Alihkan Perhatian Anak
Sebagian orang tua menganggap ini tidak perlu namun ada sebagian juga menganggap walaupun sudah dilakukan tetap saja tidak mempan. Sebentar, ini yang perlu kita pahami kembali. Jika cara ini tidak mempan, coba kita perhatikan kembali usaha apa yang sudah kita lakukan untuk mengalihkan perhatian anak. Apakah perhatian anak sudah benar-benar teralihkan sampai pada akhirnya anak lupa kalau sebelumnya dia sedang mengalami tantrum? Jika belum berarti aktivitas yang kita coba alihkan tersebut masih kurang menarik perhatian anak. Untuk memilih aktivitas yang dapat mengalihkan perhatian anak tentu harus aktivitas yang dianggap benar-benar menarik, namun bukan dalam arti kita harus memberikan apa yang ingin anak lakukan sebelumnya. Jika perhatian anak sudah teralihkan tentu akan sangat mudah untuk kita bertanya kepada anak tentang emosinya yang tadi sudah terjadi dan akan mudah juga untuk kita menjelaskannya karena pada saat itu amarah anak sudah semakin mereda.
Bagaimana dengan orang tua yang menganggap cara ini tidak perlu? Biasanya anak akan didiamkan atau diacuhkan dan sering kali tanpa pengawasan. Tentu saja ini akan berbahaya apalagi jika tanpa pengawasan. Beberapa anak akan ada yang mengalami aktivitas yang di luar nalar kita. Entah itu memukul tembok, kaca, cermin yang bisa saja melukai dirinya. Bisa saja lompat dari ketinggian yang bisa membahayakan dirinya. Mengurung diri entah di lemari atau kolong tempat tidur atau ruang sempit lainnya. Masih banyak lagi aktivitas yang dapat mengancam keselamatan anak yang di luar pemikiran kita. Tentu karena selain anak merasa dirinya tidak berharga, anak pun masih belum terlalu memahami apa akibat yang akan terjadi jika dia melakukan perbuatan nekat seperti itu. Oleh karena itu tetap harus dalam pengawasan.
- Jangan Melakukan Kekerasan Kepada Anak
Jangan sesekali melakukan bentuk kekerasan apapun kepada anak. Sayangnya kita umumnya mengetahui bentuk kekerasan itu seperti memukul, mencambuk, atau mendorong anak hingga terjatuh. Sebenarnya ketika kita mencubit pun sudah melakukan kekerasan loh, apalagi kalau sampai meninggalkan luka. Mungkin akan jauh lebih baik jika kita memeluk dan kemudian mengelus kepala anak daripada kita harus melakukan kekerasan tersebut. Selain itu juga jika kita memeluk atau mengelus kepala anak secara tidak langsung kita sedang melakukan bonding kepada anak. Bonusnya anak akan merasa bahwa kita mengerti keadaan yang dialami oleh anak dan emosinya pun bisa semakin mereda 😊
- Amankan Lingkungan Anak dari yang Membahayakan Dirinya
Anak yang tidak mengalami tantrum saja harus berada di lingkungan yang sangat aman dan jauh dari hal-hal yang dapat membahayakannya, apalagi anak yang sedang tantrum. Tentu saja lingkungan yang aman, nyaman dan jauh dari berbagai benda yang dapat membahayakannya menjadi prioritas utama kita untuk anak. Lalu kenapa anak sedang tantrum pun juga diperlakukan dengan lingkungan yang sama? Hal yang perlu kita ingat adalah bahwa anak yang sedang mengalami tantrum tentu akan memiliki energi yang lebih dan ekstra. Bisa saja seluruh kekuatan tubuhnya ia keluarkan untuk meluapkan amarahnya tersebut. Nah dari energi itulah yang pada akhirnya anak dapat melakukan berbagai aktivitas dan menggunakan benda apapun yang berada di sekitarnya. Tentu saja hal ini tetap harus dalam pengawasan kita, jangan sampai anak dibiarkan.
Jadi sebenarnya anak mengalami tantrum itu wajar gak?
Menurut saya sangat wajar jika anak mengalami tantrum. Hanya saja tinggal cara kita menghadapi anak sedang tantrum itu seperti apa. Apakah kita akan menghadapinya dengan tantrum juga atau dengan penuh ketenangan. Penting namun sering kali kita tidak menyadari hal tersebut jika anak sedang tantrum kita menghadapinya dengan cara yang serupa pula, sehingga berdasarkan penelitian tidak sedikit anak yang mengalami trauma di masa kecilnya, terutama dengan orang tua. Ketika anak masih kecil, secara tidak langsung ia akan menyimpan memori yang pernah dialaminya, baik memori yang baik maupun memori yang buruk. Memori yang buruk inilah yang perlu kita hindari serta kita pun bisa sedikit demi sedikit anak pun memiliki memori yang baik dan kita pun dapat berdamai dengan diri kita sendiri dan press self inner child.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat yaa dan dapat dipelajari beberapa hal yang baik-baiknya. Terimakasih banyak 😊
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar