Menikah Saat Masih Kuliah

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Halo sahabat semua. Apa kabar? Semoga selalu sehat wal afiat dan dalam lindungan Allah swt. serta kita dijauhkan dari segala marabahaya serta penyakit pandemi yang masih belum berakhir ini. Mudah-mudahan segala sesuatu urusan teman-teman dimudahkan dan dilancarkan setiap langkahnya. Aamiin Yaa Rabbal 'Alamin.

Baiklah kali ini saya akan menulis yang sangat berbeda dari biasanya karena ini pengalaman pertama dan Insyaa Allah menjadi yang terakhir dalam hidup. Keputusan terbesar dan memiliki beban tanggung jawab yang luar biasa, karena menurut saya ini adalah keputusan terbesar dan terberat sehingga tidak semua orang dapat melakukannya. Memang bisa sih tapi hanya dapat dilakukan diwaktu yang tepat. Hehehe.

Pertanyaannya: Apa yang teman-teman pikirkan pertama kali ketika melihat gambar cincin ini?

A. Menikah

B. Tunangan

C. Dikasih pacar/mantan pacar

D. Cuma sekedar hiasan dijari aja

E. Cuma sekedar tanda kalo udah ditaken padahal masih jomblo

F. ..............................................................(teman-teman bisa isi sendiri)

(Just intermezzo)

Setiap manusia baik laki-laki ataupun perempuan pasti menginginkan sebuah pernikahan, membangun keluarga secara mandiri tanpa campur tangan dari orang tua, maupun orang-orang terdekat kita, atau siapapun itu. Tentunya menikah adalah sebuah keputusan terbesar dalam hidup dan ibadah terlama sepanjang hidup kita. Maka dari itu untuk menentukan keputusan menikah pun tidak dapat main-main. Hanya sekedar ucapan saja seperti, "Aku ingin kamu jadi ibu dari anak-anakku." (Biasanya yang suka bilang begini laki-laki sih. Hehehe.) atau, "Kamu imam yang aku cari selama ini." (Tentunya kalau kalimat seperti ini biasanya perempuan yang bilang.). Yaa kurang lebih seperti itulah. Kalaupun memang serius baiknya memang dikurangi kalimat seperti itu dan perkuat keyakinan serta tunjukkan buktinya. Hal yang perlu diingat adalah bahwa laki-laki itu makhluk dengan penuh logika, jadi apa-apa itu serba dipikirkan secara logis. Sedangkan perempuan adalah makhluk yang perasa, jadi sedikit-sedikit melibatkan perasaannya, yaa kalo zaman sekarang sering disebut dengan kata "baper" (sayangnya penggunaan kata tersebut sekarang banyak yang menyalahgunakan sehingga mengikis rasa empati pada setiap orang). Namun tidak dapat dipungkiri ada juga laki-laki yang perasa (sebenarnya laki-laki itu jauh lebih sensitif perasaannya *source: kajian dari dr. Aisah Dahlan, CHt, CM.NNLP bisa dilihat di youtube atau instagramnya @draisahdahlan) dan ada juga perempuan yang lebih logic.

Begitupun dengan saya yang pada saat itu memiliki keinginan untuk segera menikah. Namun yaa sadar diri juga sih, mau nikah sama siapa juga. Hahaha. Ditambah saya yang terlalu mencari-cari alasan kenapa saya harus menikah sesegera mungkin dan ditambah semakin hari saya pun semakin berpikiran jauh lebih logis. Jadi logika yang jauh lebih bermain dibandingkan perasaan. Parahnya lagi saya pernah berpikir jika saya tertarik dengan si A, apa yang menjadi alasan terkuatnya? Kenapa orangnya si A? Apa kelebihan dan kekurangan si A? Apakah si A dapat mengimbangi atau melengkapi kepribadian saya? Apakah si A tidak mempermasalahkan sisi kemandirian saya yang sejak kecil sudah dituntut seba mandiri dan tidak bergantung pada siapapun? Dan masih banyak pertanyaan lainnya sampai sebenarnya saya pun muak untuk mengajukan pertanyaan itu.

Tentu saja saya menjadi pribadi perempuan yang lebih logis karena terdapat beberapa faktor yang melatarbelakanginya dan dari hal ini bisa teman-teman pelajari, di antaranya:

  • Dorongan kuat dari orang tua dan saudara kandung untuk segera menikah

Ini adalah hal yang paling umum dan paling banyak dijadikan faktor utamanya. Jangan salah, banyak orang yang pada akhirnya memutuskan menikah dengan alasan orang tua atau saudara kandung. Menikah karena disuruh ayah, ibu, kakak, atau adik karena sudah ingin segera menikah. Ada juga menikah karena sudah dijodohkan oleh orang tua, baiklah kalau memang memiliki visi dan misi yang sama, seiya dan sekata bolehlah dijadikan pertimbangan. Namun tetap setelah menikah yang menjalani kehidupan selanjutnya itu adalah dirimu sendiri. Segala sesuatu keputusan rumah tanggamu adalah tanggung jawabmu dan pasanganmu. Tentunya masalah rumah tangga itu sangatlah kompleks. Tidak hanya tentang dirimu dan pasanganmu, bisa saja ini melibatkan orang tua, saudara, atau orang di luar lingakran keluarga. Sekarang yang menjadi pertanyaannya terutama untuk diri sendiri, "Apakah saya sudah siap lahir batin untuk menghadapi segala sesuatu dalam kehidupan rumah tangga?"

Namun bukan dalam arti tidak adanya dorongan kuat untuk segera menikah dari orang tua maupun keluarga kita bisa santai saja. Tentu akan selalu ada dorongan juga dari external family circle, seperti teman-teman, orang-orang terdekat dengan kita, rekan kerja, teman kuliah dan masih banyak lagi. Memang omongan orang lain itu jauh lebih pedas dari orang-orang yang berada di internal family circle kita, namun uniknya adalah kita bisa jauh lebih cuek dengan omongan mereka. Berbeda jika hal tersebut dikatakan oleh internal family circle kita, yaa setidaknya akan menjadi sedikit beban pikiran. Pemikiran tentang "Pernikahan bukan sebuah perlombaan." atau "Pernikahan bukan tentang siapa yang duluan atau siapa yang tercepat." Memang benar dan tidak sepenuhnya salah. Namun ada hal yang perlu diperhatikan kembali, jangan sampai kita terjebak dengan kalimat tersebut sehingga kita pun menjadi pribadi yang super logic. Mungkin akan jauh lebih baik jika diakhiri dengan kalimat, "Doakan saja semoga disegerakan." dengan penuh ketenangan, walaupun ya saya pun mengakui sulit untuk menyampaikan hal tersebut dengan penuh ketenangan.

  • Pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu

Adanya pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalu tentunya menjadi salah satu faktor penghambat untuk melangkah menuju pernikahan. Tentunya hal inilah yang perlu segera ditangani jika teman-teman sudah memiliki keinginan kuat atau sedang dalam perjalanan perencanaan menuju pernikahan. Pengalaman yang tidak menyenangkan itulah yang menjadi urusan yang belum selesai di masa lalu yang memang baiknya segera diselesaikan agar kita pun mendapatkan ketenangan batin. Namun harus berhati-hati, jika teman-teman sudah memilih seseroang untuk menjadi pendamping hidup, bagaimanapun caranya sebisa mungkin jangan pernah libatkan perasaan di dalamnya. Gunakan prinsip "semuanya sudah berlalu". Alangkah jauh lebih baik memang saat menyelesaikan urusan tersebut jangan menghadapinya sendirian. Mintalah bantuan beberapa orang terdekatmu, terutama orang tua atau saudaramu untuk ikut menyelesaikannya sehingga dengan adanya orang ketiga yang menjadi penengah akan membantumu serta pilihan dan perasaanmu pun tidak mudah goyah karena urusan tersebut. Jangan berikan celah sedikitpun.

  • Memiliki rasa kecewa yang mendalam saat memiliki hubungan spesial dengan laki-laki

Inilah yang menjadi hal terberat (terutama untuk saya) saat akan memutuskan untuk menikah. Yaps, sampai sebegitunya sampai saya pun rasanya sangat sulit untuk kembali membuka hati untuk orang lain. Namun bukan dalam artian saya tidak bisa move on ๐Ÿ˜† justru saya sangat bersyukur pada saat itu akhirnya saya mengakhiri hubungan tersebut. Hahaha.

Sampai sebegitu sulitnya menerima laki-laki lain?

Yaps, dan saya pun juga heran, kok bisa-bisanya saya sampai seperti itu dan butuh waktu yang cukup lama walaupun tidak sampai bertahun-tahun karena kebetulan dibantu dengan kesibukan saya di kantor dan kuliah sehingga membantu proses move on. Namun setelah saya renungkan sejenak, sebenarnya sangat wajar saya memiliki perasaan tersebut. Yaa bagaimana tidak, semua rencana yang sudah disusun rapi dan sudah didiskusikan dengan kedua-belah pihak keluarga untuk segera menikah namun pada ternyata diakhiri secara sepihak dari pihak laki-laki. Masih mending ya kalo ada alasan yang masing-masing dapat menerimanya walaupun mungkin tidak logis, ini diputuskan secara sepihak dan tanpa memberikan alasan sedikitpun alias setelah "putus" tidak memberikan alasan yang dapat diterima oleh kedua pihak. Sampai akhirnya saya pun sempat berpikir begini, "Zaman sekarang mungkin akan sangat langka menemukan laki-laki yang benar-benar ingin menjalani hubungan serius menuju pernikahan." selain itu juga saya pun sempat berpikiran seperti ini, "Kalau memang ga niat, kenapa harus ngajakin nikah dan kedua pihak keluarga sudah sama-sama setuju dan merestui?" atau, "Kalau memang mau mengakhiri, kenapa ga dari awal?" atau ini, "Kalau ternyata sudah sejauh ini, bukankah tidak ada salahnya kan untuk mengutarakan alasannya? Apalagi kita sudah sama-sama bisa berpikiran secara dewasa dan jauh lebih dingin serta jernih untuk menyelesaikannya." Namun ternyata semakin banyak pertanyaan itu semakin tidak dapat terjawab baik oleh diri saya sendiri, apalagi beliau yang sudah memutuskan silaturahminya terlebih dahulu.

Selain menjadi salah satu faktor penghambat, tentu saja dengan adanya rasa kecewa itu perlu segera diselesaikan. Jangan sampai ketika kita memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidup kita dijadikan sebagai objek balas dendam (hal ini sih parah banget). Meminimalisir rasa kecewa itu memang sulit, namun tidak ada salahnya untuk mencobanya seperti berkumpul dengan orang-orang terdekat, sahabat, manfaatkan family time, atau me time yang mungkin pada saat itu kita tidak memiliki waktu tersebut untuk mereka (karena terlalu banyak menghabiskan waktu dengan beliau itu). Selain itu juga bisa memulai dengan beberapa kegiatan baru yang ingin kita coba namun sempat tertunda, mengeksplorasi potensi dan tentang diri kita yang belum sempat digali lebih mendalam, namun tetap ya harus kegiatan yang positif serta bermanfaat untuk diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

Menikah saat masih kuliah? Why not?

Memang tidak sedikit yang menunda menikah karena alasan masih kuliah. Namun bukan dalam arti tidak ada yang menyelesaikan kedua urusan tersebut secara bersamaan, menikah dan kuliah, yang artinya seseorang tersebut akan memiliki dua urusan yaitu keluarga dan kuliah. Apalagi mereka yang menikah saat berada di masa penghujung perkuliahan, tentu saja akan banyak menguras tenaga dan pikiran. Sebenarnya saya pun juga begitu namun perbedaannya saya lebih bergelut dengan waktu antara ujian dan pernikahan dengan selisih waktu seminggu. Hehehe.

Banyak sekali tantangan saat memutuskan akan menikah apalagi masih kuliah, terutama saat mempersiapkan segala sesuatunya. Apalagi kalau semuanya diurus sendiri tanpa meminta bantuan orang lain atau WO. Jujur ribet banget dan saat itu juga saya kerjaannya nangis-nangis terus, marah-marah bahkan sampai membentak dan tidak mau diajak komunikasi lagi sama calon suami (Yaa Allah maafkan kelakuanku dulu. *suamiik, kalo baca ini maafin aku yaah ๐Ÿ˜ญ serius waktu itu stres berat ditambah kamunya malah santai banget ngadepinnya ๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‚). Sempat kepikiran buat nyerah atau lebih tepatnya ngebatalin? Ada! Tapi pada saat itu yang ada dipikiran saya adalah ga enak sama calon suami dan keluarganya, apalagi saya dan calon suami adalah sahabat baik dari kecil.

Pikiran yang tenang adalah kunci utamanya. Selain kita sudah berusaha semaksimal dan sebaik mungkin tetap saja akan ada masa di mana kita merasa tidak berdaya dan rasanya ingin menyerah. Di saat itulah waktu yang tepat untuk berserah diri. Tetap berdoa dan minta dimudahkan untuk menyelesaikan segala urusannya. Belajar kembali tentang manajemen waktu dan manajemen diri untuk mengatur semua urusan yang sedang/akan dijalani. Akan banyak sekali waktu dan tenaga yang terkuras sangat banyak. Apalagi saat itu saya sedang bergelut dengan waktu antara pekerjaan, kuliah, urusan pernikahan yang saya urus sendiri bersama calon suami. Sangat berat rasanya dan sebenarnya sempat agak sedikit menyesal kenapa kita tidak meminta bantuan jauh lebih banyak atau kalau perlu kita pakai jasa WO sekalian. Tapi pada saat itu kami sangat optimis dan saya pun terlalu percaya diri kalau bisa menyelesaikan semuanya sendiri (walaupun pada kenyataannya tidak ๐Ÿ˜‚).

Jangan sungkan untuk meminta bantuan dari orang-orang terdekat kita, karena sesungguhnya kita tidak akan sanggup menyelesaikan semuanya sendirian. Apalagi kalau memutuskan tidak menggunakan jasa WO. Tapi tetap jangan asal memilih orang. Pilihlah mereka yang benar-benar mengerti dan memahami konsep yang kita inginkan. Karena kalau kita asal memilih orang tentu saja akan muncul perdebatan pemahaman antara konsep yang kita inginkan dengan konsep yang ada dipikiran mereka, apalagi jika ada beberapa orang di antaranya cenderung saklek harus menggunakan konsep yang mereka inginkan. Ingat karena yang akan menikah itu dirimu sendiri, bukan mereka.

Baiklah, sekian dulu untuk hari ini. Insyaa Allah cerita tentang khitbah (lamaran), perencanaan pernikahan, sampai pernikahan akan dishare di lain waktu. Karena kalau diselesaikan dalam satu tulisan ini, terlalu panjang ๐Ÿ˜ญ dan catatan kali ini pun sepertinya sangat panjang ๐Ÿ˜ฐ

to be continue.......

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. ๐Ÿ˜Š

Komentar