Keputusan Menikah Saat Masih Kuliah

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo sahabat semua! Apa kabarnya? Semoga selalu sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan Allah swt. Aamiin yaa rabbal'alamin. Untuk teman-teman yang masih tetap harus bekerja di luar rumah tetap semangat dan jangan kasih kendor untuk tetap menerapkan prokes ya, setidaknya kita menjaga minimal untuk diri sendiri agar tidak ikut tertular Covid-19. Untuk teman-teman yang dapat bekerja dari rumah tetap semangat!

Oh iya, kemarin saya dapat kabar dari teman kantor katanya Insyaa Allah pertengahan tahun ini KBM bisa secara offline, tapi dengan syarat baik tenaga pendidikan maupun mahasiswa harus sudah divaksin terlebih dahulu. Jadi buat teman-teman mahasiswa yang sudah benar-benar tidak sabar ingin perkuliahan offline sebaiknya ikuti yaa. Oh iya tapi tetap cari informasi yang benar-benar valid ya, kapan waktunya perkuliahan offline di mulai.

Saya jadi ingat nasehat dari dokter yang merupakan salah satu sahabat saya, "Setidaknya dengan adanya vaksin dan seseorang tersebut sudah divaksin, tapi semoga jangan sampe kaya gini sih ya, kalau semisal dia terpapar virus tersebut tubuh sudah mengenali virusnya itu sehingga membentuk antibodinya gitu deh. Jadi kalopun iya kena kemungkinan tingkatannya bisa mencapai rendah atau mungkin OTG. Setidaknya ini salah satu bentuk ikhtiar kita dalam menghadapi virus tersebut." Pendapat saya tetnang hal tersebut? Sebenarnya kembali lagi kepada pendapat teman-teman, tapi memang apa yang disampaikan oleh teman saya itu ada benarnya. Bukan kah kita diharuskan berikhtiar terlebih dahulu ketika ingin memperjuangkan sesuatu? Nah begitu juga dengan adanya vaksin tersebut.

Oke, kita back to the topic yang akan dibahas kali ini. Hehehehe.

Sebenarnya tulisan kali ini merupakan lanjutan dari tulisan yang sebelumnya (bisa klik ini https://dewisuciatia.blogspot.com/2021/02/menikah-saat-masih-kuliah.html). Oh iya FYI tulisan ini murni menurut pendapatku dan suami ya dan adapun tambahan itu berdasarkan beberapa literatur yang sudah kami pelajari dan kami coba terapkan sebelum kami menentukan keputusan untuk menikah.


Sering banget kan kita mendengar jokes "Nikah tu ga gampang vambank!!" dan memang benar menikah itu tidak semudah yang kita kira. Cukup berat untuk melewatinya dan memang membutuhkan mental yang luar biasa kuat dan perlu pendapat yang seiya sekata. Begitu juga dengan menentukan keputusan untuk menikah terutama saat masih kuliah. Saat kita masih ada urusan yang perlu diselesaikan tapi kita dihadapkan dengan kehidupan kita selanjutnya, yaitu pernikahan. Idealnya ketika seseorang sudah memutuskan untuk menikah, artinya dia sudah siap untuk hidup mandiri tanpa membebani orang tua, karena setelah kita menikah selesailah tanggung jawab orang tua kepada anaknya (tapi tidak untuk anak ya, tetap harus berbakti pada orang tuanya sampai kapanpun).Tanggung jawab baru sebagai suami atau istri yang sama-sama harus memenuhi kewajibannya, lebih saling mengerti, memahami, dihadapkan dengan realita kehidupan sebenarnya, terutama kehidupan rumah tangga, pokonya ekstra deh kalo dibandingin masa-masa pacaran ga ada apa-apanya deh 😅 (ini murni pendapat saya loh ya).

Mungkin pemikiran ini pernah ada dibenak teman-teman mahasiswa, terutama mahasiswa tingkat akhir dan rata-rata perempuan yang bilang seperti ini, "Duh ga kuat ngadepin skripsi! Susah banget ga ngerti deh. Mendingan nikah aja deh daripada harus ngadepin ini." Kurang lebih seperti itu. Mungkin juga teman-teman mahasiswa yang berada di semester awal atau pertengahan juga pernah berpikiran yang serupa. Hmmm. Coba pikirkan lagi deh karena serius menikah itu memang seindah yang dibayangkan namun tidak selamanya tepat seperti itu. Apalagi kalo kita masih kuliah, benar-benar harus jago banget time managementnya. Membagi waktu selama 24 jam untuk keluarga, kuliah, tugas di rumah, tugas kampus, belum lagi kalo ada teman-teman yang sudah bekerja.

Tentu saja keputusan untuk menikah itu memang diawali dengan niat yang benar-benar ditujukan untuk ibadah. Ya karena pernikahan adalah ibadah terlama seumur hidup kita. Tapi sebelum memastikan apakah kita menikah itu benar-benar dengan tujuan untuk ibadah atau karena ingin lepas beban hidup, beberapa tips di bawah ini mungkin bisa teman-teman jadikan bahan pertimbangan ketika akan menentukan menikah saat masih kuliah.

  • Saling mengerti dan memahami agenda kegiatan sehari-hari.

Tentu saja ini menjadi hal paling utama yang harus dikomunikasikan. Kalau cuma salah satunya saja yang masih kuliah, misal pihak perempuan yang masih kuliah. Ajak dia berdiskusi sebelumnya dan beritahu semua agenda kegiatan sehari-hari, terutama agenda perkuliahan. Selain itu juga kita tidak boleh memaksakan dia harus mengerti atau memahami setiap agenda yang kita lakukan, tetap perlu dikomunikasikan. Jika pihak laki-laki saja yang masih kuliah, tentu pihak perempuan jangan semena-mena hanya karena sudah selesai dengan urusan perkuliahan (jika memang sebelumnya sudah menyelesaikan studi). Coba deh lihat lagi, dia itu laki-laki yang menjadi suamimu, dia memiliki tugas dan tanggung jawab double. Berperan sebagai suami yang mana berkewajiban mencari nafkah untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga, selain itu juga masih harus menyelesaikan studinya (apalagi kalo sudah sampai semester akhir, kan sayang banget tinggal diujung tanduk). Tapi jangan karena kalimat ini teman-teman yang laki-laki jadi berleha-leha ya, tetap semangat dan selesaikan semua urusan yang belum diselesaikan, karena ada seseorang yang selalu menunggu di rumah. Kalau keduanya masih sama-sama kuliah inilah yang perlu diatur banget agendanya. Mungkin kalau masih berdua saja masih enak ya belum terbagi dengan urusan anak. Namun berbeda ceritanya kalau sudah punya anak. Tentunya ini perlu dikomunikasikan dengan sangat baik dan sama-sama mencari jalan keluarnya untuk menyelesaikan hal tersebut.

Nah sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita sanggup menghadapi semua kenyataan itu? Karena kunci utamanya di sini adalah time management serta saling mengerti dan memahami agenda masing-masing dan jangan terlalu saling menuntut apapun. 

  • Support dari pasangan.

Ini sebenarnya masih nyambung ya dari poin sebelumnya. Tentunya segala sesuatunya perlu adanya dukungan dari pasangan. Mungkin ada beberapa teman-teman yang menemukan hanya mendapatkan support di awal saja setelah itu tidak sama sekali. Hmm, pemahaman ini yang perlu kita upgrade sekali lagi. Support yang dimaksud memang harus diberikan setiap saat, namun tidak hanya selalu dalam bentuk kalimat saja, namun juga diiringi dengan support dalam bentuk perbuatan juga. Misal, pihak perempuan mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugasnya, apalagi kalo yang lagi skripsi nih 😃. Sebenarnya tidak ada salahnya sih pihak laki-laki menawarkan bantuan. Kalau sebidang kan lumayan bisa jadi teman diskusi juga, namun kalau beda bidang yaa setidaknya bisa bantu ngetik atau bantu menganalisis atau bantu menghitung, menyelesaikan data, atau mungkin otak atik microsoft word, excel, atau power point (kalau tinggal bikin bahan persentasi). Begitu juga sebaliknya dan tentunya ini harus diiringi dengan menurunkan rasa gengsi. Karena pada dasarnya kita makhluk sosial yang ada masanya kita membutuhkan bantuan dari orang.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kalian sanggup memberikan support tersebut? Dan perlu diingat, support yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk kalimat "Semangat ya kuliahnya!" atau "Semangat ya skripsinya!" tapi juga support dalam bentuk perbuatan juga. Tentunya stok support ini ga boleh ada habisnya dan harus terus diberikan. 

  • Membuat sebuah perjanjian.

Tepatnya membuat sebuah keputusan yang sama-sama harus dipatuhi dan dihormat, tentu saja itu karena keputusan berdua. Contohnya seperti apakah selama teman-teman masih kuliah mau menunda momongan atau tidak menunda. Nah kedua keputusan tersebut harus segera komunikasikan terutama untuk kebaikan berdua. Jika ingin menunda komunikasikan bagaimanapun cara dan teknisnya, seberapa lama akan menundanya. Jika tidak ingin menunda tetap komunikasikan juga. Namun mungkin perbedaannya di sini jika teman-teman masih sama-sama kuliah harus segera mengatur jadwal terutama dengan agenda perkuliahan ya, atau mungkin jika orang tuamu benar-benar bersedia membantumu jangan ditolak juga. Intinya kalau kita mengalami sedikit kesulitan walaupun kita sudah benar-benar berusaha untuk menyelesaikannya sendiri namun kita tidak sanggup tidak ada salahnya kita meminta bantuan.

Nah, apakah sudah ada kesepakatan mengenai hal tersebut? Ingat ya perjanjian ini lebih mengarah pada sebuah target yang dapat dijadikan sebagai motivasi, jangan pernah dijadikan beban. Namun tetap harus ditepati. 

  • Saling bekerja sama terutama dalam rumah tangga.

Salah satu temanku pernah bilang begini, "Menikah sebuah ikatan. Menjalankan rumah tangga itu ibarat kerja kelompok dalam jumlah kecil dan cuma berdua saja. Fokusnya adalah cara kita agar sama-sama berhasil dan sukses dalam kerja kelompok itu." Tentu saja baik laki-laki maupun perempuan memang memiliki haknya masing-masing, namun daripada kita menuntut hak kita jauh lebih baik kita memenuhi dulu kewajiban kita baik sebagai suami atau istri. Selain itu juga kita jangan terlalu terpaku dengan kalimat "tugas suami itu mencari nafkah dan tugas istri itu mengurus rumah tangga." tentu saja harus saling membantu dengan tugas masing-masing sehingga pekerjaan apapun jika dilakukan secara bekerja sama tentu akan terasa ringan.

Jadi bagaimana, sudah siap bekerja sama dengan segala urusan rumah tangga? Kalau belum yuk segera diskusikan terlebih dahulu, agar sama-sama enak. 

Kurang lebih seperti itu beberapa hal yang perlu dimatangkan ketika memutuskan menikah saat masih kuliah. Namun hal tersebut jangan dijadikan patokan utama juga ya yang malah bikin niat menikah semakin menciut. Justru dengan adanya beberapa poin tersebut dapat dijadikan acuan dan bahan diskusi bersama calon pasangan agar tidak ada salah satu pihak merasa dirugikan.

Baiklah sekian untuk tulisan kali ini, semoga dapat bermanfaat.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar