Tentang Kehilangan

 

Tetesan embun yang mulai jatuh,

dedaunan tak sanggup menahannya,

bukan karena ia rapuh,

namun ada masanya embun itu harus berada di tempat semestinya.


Langit yang semula terang,

akan ada masanya menjadi gelap,

tak peduli siang ataupun malam,

seharusnya telah bersiap sebelumnya.


Ada masanya asa datang menyeruak,

menyesakkan kalbu,

tak peduli betapa pedihnya rasa itu,

tetap hari itu akan datang.


Ingin kembali ke masa itu,

rasanya semakin menggunung penyesalan,

kenapa baru sekarang?

sebuah pelajaranlah kini yang ada.


Apapun yang datang dariNya,

apapun yang telah diberikanNya,

semua akan kembali,

tak satu pun tersisa.


Terima kasih telah memaksaku,

walau dalam waktu sekedip mata,

setidaknya permintaanmu telah terwujud,

agar tak ada penyesalan kemudian hari.


Terima kasih telah membawaku,

membuka mataku,

melihat semua dunia sebenarnya,

sampai akhirnya aku berpijak di sini.


Kehilanganmu bukanlah akhir,

kehadiranmu bukanlah beban,

ceritamu menjadi kenangan kami,

menjadi sebuah pelajaran hidup teramat berarti.


Tulisan ini ditulis tepat di hari ayahanda meninggal dunia.

30 September 2020


Komentar