Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hai sahabat semua. Gimana kabarnya hari ini? Semoga sehat dan bahagia selalu ya. 😊
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Kalaupun tetap ada rasa sedihnya, tapi tetap saja semua ini harus segera diakhiri karena ada rencana lain yang harus segera direalisasikan, bukan semata-mata sppnya yang lumayan. Hehehe.
"Wisuda kedua kalinya? W.O.W" sebagian ada yang merespon seperti itu. Ada juga yang merespon seperti ini, "Selamat ya sudah menyelesaikan studi magisternya." Oke masih wajar. Tapi tidak sedikit juga yang merespon dengan akhiran seperti ini, "Coba kalo dulu ga lebih milih lanjut kuliah. Lumayan tuh duit yang keluar buat bayar SPP bisa dipake buat bikin usaha apa kek." Hmm. Yasudah selama kita masih hidup bakalan ada saja orang yang julidin. Take it easy. 😂
Sebenarnya banyak juga yang bertanya intinya, "Apa sih rasanya wisuda kedua kalinya?" Nah maka dari itu saya akan membahas tentang wisuda kedua kalinya versi saya. Karena saya yakin setiap orang punya pengalaman wisuda yang berbeda-beda.
Sebelumnya saya sedikit preview singkat dulu tentang diri saya selama masa studi.
Pada akhir tahun 2016 saya mengikuti tes pascasarjana di Universitas Pendidikan Indonesia. Kurang lebih sekitar 1-2 bulan kemudian saya melihat pengumuman kelulusan mahasiswa baru pascasarjana untuk angkatan 2017. Segeralah saya download file itu dan sebenarnya di email pun juga ada surat pemberitahuan kalau saya dinyatakan lolos di program studi bimbingan dan konseling jenjang S2.
Selama menempuh perkuliahan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perkuliahan S1 dulu. Perbedaan utamanya adalah dari cara kita untuk mengatur waktu, strategi belajar, dan kemampuan analisis tingkat tinggi (menurut saya sih begitu). Rata-rata yang sudah menempuh pendidikan S2 ini sudah bekerja entah itu di sekolah atau di perusahaan. Tentunya kita harus pintar-pintar mengatur waktu dan strategi agar keduanya tetap seimbang. Oh iya selain rata-rata sudah bekerja, tidak sedikit juga yang sudah menikah. Pastinya harus lebih jago lagi mengatur semuanya itu. Maka dari itu sebenarnya ini keuntungan besar untuk saya yang kebetulan saat itu belum bekerja dan menikah sehingga bisa jauh lebih fokus pada kuliah saja.
Di semester 1 sampai semester 3 perkuliahan seperti biasanya saja di kelas. Ada beberapa mata kuliah yang mengharuskan praktikum atau observasi di lapangan. Yaps. Tidak jauh berbeda kan seperti studi S1 dulu? Di semester 4 baru mulai menyusun karya tulis ilmiah yang menjadi tugas akhir kuliah, yaitu tesis. Sama juga kan seperti dulu S1? Mungkin perbedaannya adalah saat penyusunan tesis itu akan diminta salah satu prasyarat kelulusan yaitu publikasi ilmiah dan harus tingkat internasional. Awalnya sempat bingung juga, tesis belum selesai tapi kok di minta publikasi ilmiah? Dan ternyata itulah manfaatnya waktu semester 3 belajar mata kuliah tentang metodologi penelitian, karena tugas akhirnya diminta membuat proposal dan laporan hasil mini riset. Maka dari itu laporan hasil mini riset itu sebaiknya memang sejalur dengan topik tesis yang akan dibahas. Jadi dari laporan itu tinggal kita susun jadi jurnal dan publikasi deh.
Katanya semester akhir itu selalu jadi semester kutukan?
Hmm, mungkin tepatnya semester penentu langkah kita sih. Apakah kita ingin lulus sekedar cepat? Ataukah kita ingin lulus cepat dan menghasilkan karya tulis yang berkualitas? Atau yang penting kita sudah lulus dan terlepas dari beban perkuliahan? Hal yang perlu diingat adalah kembali pada niat kita di awal kuliah itu seperti apa. Ingin sambil nyari jodoh, ingin sambil main, keluar dari comfort zone, daripada nganggur di rumah. Selagi niat kita benar-benar tulus dan ikhlas untuk belajar dan memperdalam keilmuan kita serta didukung dengan rajin, disiplin, dan semangat untuk belajar (bimbingan) pembimbing sekiller apapun, seperfectsionist apapun, sesulit apapun ditemui pasti akan menemukan jalan keluar untuk mempermudah menyelesaikan studi kita.
Dulu saya dapat pembimbing 1 yang memiliki jabatan penting di kampus. Tidak tanggung-tanggung jabatannya adalah wakil rektor bidang akademik (sekarang jabatan beliau adalah rektor periode 2020-2025). Oke, awalnya saya sempat pesimis bahwa beliau yang menjadi pembimbing tesis saya. Rasa pesimis saya semakin tinggi ditambah pembimbing 2 pun juga memiliki jabatan penting di kampus, khususnya di prodi. Yaps, beliau adalah ketua prodi. Namun sebenarnya ada keuntungan lebih saya mendapatkan pembimbing 2nya beliau, karena beliau juga merangkap sebagai pembimbing akademik saya. Cara saya mengatasi rasa pesimis itu adalah dengan sering berdiskusi dengan beberapa teman-teman yang pembimbingnya sama dengan saya. Saling berkomunikasi untuk mengatur jadwal agar ikut bimbingan sama-sama dan tetap semangat menyelesaikan draf tesis. Kalaupun ada yang bingung segera diskusi dengan beberapa teman-teman dan jangan diam saja ketika ada beberapa hal yang tidak dimengerti, langsung bertanya kepada pembimbing. Tentunya dengan cara tesebut rasa percaya diri saya pun semakin bertambah.
Selama penyelesaian tesis tersebut tentu saja harus mengatur strategi yang luar biasa. Mengatur waktu untuk penelitian, bimbingan, menyusun rancangan penelitian, bahkan ada beberapa yang membutuhkan program penelitian, serta tidak sedikit yang membutuhkan waktu untuk menyebarluaskan pretest dan posttest. Belum lagi masalah perizinan, belum tentu kita langsung diterima di tempat itu. Bisa saja ditolak. Maka dari itu sebelum penelitian kita betul-betul harus paham tentang kondisi lapangan yang akan menjadi tempat penelitian. Tentunya untuk teman-teman yang sudah bekerja hal ini akan menjadi sebuah keuntungan besar bisa melakukan penelitian di tempat kerjanya.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tesis?
Secara realistis tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi semua itu kembali lagi pada strategi dan manajemen waktu yang kita atur dan kita tetap harus rajin bimbingan dan diskusi. Itu kunci utamanya. Banyak juga kok yang bisa selesai dalam satu semester. Sesibuk apapun kegiatan pembimbing, pasti akan meluangkan waktu untuk mahasiswa yang ingin bimbingan. Selain itu jangan ragu untuk bertanya tentang boleh tidaknya bimbingan secara online (jika terhambat mobilitas). Kalau boleh bimbingan secara online (biasanya via email) manfaatkan kesempatan besar itu dan jangan lupa untuk berani bertanya kira-kira kita butuh waktu berapa lama untuk menunggu hasil koreksi dari pembimbing. Kalau semisal pembimbingnya lupa atau saking sibuknya jadi email kita belum terbaca, harap dimaklumi, urusan yang beliau selesaikan bukan cuma urusan tesis kita saja. Sama seperti kita yang memiliki berbagai urusan yang perlu diselesaikan.
Kalau saya sendiri butuh waktu yang sedikit ekstra untuk menyelesaikan tesis, tepatnya perlu 2 semester. Selain karena penelitian saya masih sangat baru juga literatur yang masih sangat sedikit dan teori utama yang menjadi pendukung utama penelitian saya ini tidak ada, sehingga perlu menganalisis lebih mendalam dari satu teori dan menjadikannya sebagai pijakan teori utama yang digunakan. Penelitian paling terbaru memang akan jauh lebih diminati oleh pembimbing (jika penelitian tersebut realistis) namun tetap saja akan jauh lebih baik jika kita sudah menemukan teori utama yang akan digunakan dalam penelitian kita.
Sebenarnya wisuda kedua kalinya tidak jauh berbeda dengan wisuda pertama kali di tahun 2016. Namun untuk saya, yang menjadi perbedaan utamanya adalah cara untuk menghargai setiap langkah kaki saya selama melewati masa perjuangan tersebut. Saya yang kebetulan sambil bekerja (di tahun kedua kuliah) yang tentu saja memiliki waktu yang sempit untuk menyelesaikan tesis karena dalam seminggu bisa saja 3-4 kali saya harus pergi keluar kota dan tentunya itu sangat menguras waktu di jalan. Belum bergelut dengan rasa lelah untuk menyelesaikan urusan kantor dan kuliah, ditambah saat itu ditambah dengan rencana yang lain (nikah). Tentu saja pikiran menjadi terbagi-bagi. Bahkan sampai meragukan diri sendiri, "Bisa gak ya menyelesaikan itu semuanya?". Rasa ingin menyerah tentu saja ada. Antara menyerah dengan kuliah atau pekerjaan. Tapi kalau menyerah dengan pekerjaan sebenarnya sayang juga karena dengan pekerjaan itulah saya mendapatkan pengalaman lapangan dan lumayan honornya bisa menopang semua keperluan saya kuliah. Hehehe. Tapi kalau menyerah dengan kuliah sangat disayangkan sekali, cuma tinggal ujian tesis aja loh. Bisa disebut tinggal diujung tanduk. Hahaha. Menyerah dengan pernikahan? Satu sisi ngerasa ga enak luar biasa dengan orang tua apalagi calon suami adalah sahabat saya sendiri sejak kecil. Akhirnya saya pun pasrah dengan keadaan, tapi tetap sambil berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan semuanya dalam satu waktu yang sama.
Waktu yang terkuras itulah yang akhirnya menjadi pelajaran yang sangat berarti untuk saya. Bahwa setiap detiknya memiliki arti dan sangat disayangkan kalau disia-siakan. Saking berartinya jika ada waktu yang terlewat pun rasanya selalu menyesal dan menganggap tidak berguna karena terlalu santai, berleha-leha, sering menunda. Dan benarlah sebuah pepatah, "Setiap detik adalah berharga. Jangan kau sia-siakan."
Saat hari H wisuda tentu saja ada rasa bahagia sekaligus sedih. Bahagia akhirnya bisa menyelesaikan bersama-sama. Saling mengapresiasi atas usaha kita selama ini tidaklah sia-sia. Sedih karena terlalu banyak hal yang akan dirindukan. Belajar bersama di kelas, di luar kelas, masa-masa tegang menyelesaikan tugas, dikejar deadline, ngumpul bareng, ngerumpi di kantin, tentunya kalau sudah bahas kantin yaa makanannya dong. Hehehe. Tapi tetap kita harus kembali ke daerah masing-masing untuk mengabdi di daerah. Semoga saja perjuangan kami selama ini tidaklah sia-sia.
Komentar
Posting Komentar