Pengalaman Lolos Seleksi Sekolah Pascasarjana (SPs) UPI

Halo.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hai sahabat semua! Apa kabarnya?
Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah swt. Aamiin

Hari ini saya lagi di kampus nihh. Salah satu kampus favorit yang jebolan dari kampus ini rata-rata jadi tenaga pendidik.
Yups. UPI alias Universitas Pendidikan Indonesia yang jaman duluuuuuu banget namanya IKIP Bandung alias Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung. Hehehhee

Ngeliat langkah kaki saya sudah sampai di sini rasanya terharu banget bisa memperjuangkan dan menepis semua ucapan-ucapan yang ga enak yang dulu pernah disampaikan kepada saya. Namun hal yang paling penting itu, jika kita berjuang dengan bersungguh-sungguh dan tetap terus berdoa, berikhtiar, berusaha, kemudian menyerahkan segala sesuatu urusannya ke Allah swt., Insyaa Allah langkah kaki kita akan dipermudah :)

Sekalian bernostalgia jaman-jaman perjuangan masuk ke UPI, kali ini saya mau share pengalaman tes seleksi SPs alias Sekolah Pascasarjana di UPI sekalian memenuhi janji saya buat teman-teman dan diri sendiri juga sih. Heheheu.


Super duper thanks a lot buat kakak tingkat saya di UNIB (Universitas Bengkulu) udah share infonya kemarin ada pembukaan tes pascasarjana di UPI pas bulan Desember 2016. Sebenarnya agak bingung juga tumben UPI buka pendaftaran tes di akhir tahun karena biasanya tes gelombang pertamanya sekitar bulan Juni dan gelombang ke dua bulan Juli. Tapi alhamdulillah karena ada kebijakan ini saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes bulan Desember 2016.

Awalnya saya mungkin teman-teman seangkatan saya pada banyak yang nyangka kalau yang tes bulan Desember 2016 mulai kuliahnya tidak pada bulan September 2017. Karena pada kepo termasuk saya juga dicarilah informasi tersebut dan ternyata mulai perkuliahannya untuk bulan September 2017 dan daftar ulang dan semua-muanya pun pada bulan Agustus 2017. Memang waktu cukup panjang tapi tergantung kitanya bagaimana acara memanfaatkan waktu luang tersebut.

Okay, back to the topic. Ada curhat sedikit gapapa ya ? Hehehe

Ceritanya waktu itu setelah lulus kuliah S1 sempet rada stres sih coba masukin lamaran ke sana ke sini kemari termasuk sekolah negeri maupun swasta (karena background pendidikan saya dari pendidikan) ga lolos-lolos. Entah karena faktor apalah itu karena masih sangat newbie terjun di dunia yang sebenarnya. Saking stresnya sampe mikir "Apa karena IPK saya kegedean ya? Jadi banyak yang menolak?" jelas sekali itu bukan alasannya. Tapi sekalinya dapat pekerjaan yang sesuai jadi dipertimbangin lagi sampai bikin sakit kepala. Terkadang jarak yang jauh dan sulit lepas dari ortu jadi kendala yang sangat besar, apalagi ridhonya Allah terletak pada ridhonya orang tua. Jadi mau tidak mau mengorbankan pekerjaan yang sudah didapatkan dan jadinya cirambay (nangis).

Akhirnya saya nyerah tapi tidak menyerah begitu saja. Tetap mencari dan membujuk orang tua jikalau ternyata harus jauh dari orang tua serta tetap menyerahkan semuanya ke Allah swt. karena saya sangat yakin Allah punya rencana jauh lebih baik dan jauh lebih indah untuk saya. Saat itu memang sudah sangat jenuh dengan aktivitas biasanya, keluar rumah cuma berenang atau beli bahan-bahan untuk eksperimen di dapur, kalo eksperimennya berhasil baru dishare resepnya lewat cookpad atau kalo ada yang suka biasanya ada aja yang beli kalopun ga banyak, kalo lagi rada centil biasanya sama mamah diajarin eksperimen dengan make up.

Singkatnya beberapa bulan kemudian tepatnya pada awal banget Desember 2016 saya dapat kabar kalau ada tes pascasarjana di UPI. Awalnya sempat bingung, tumben di UPI ada tes bulan Desember karena sepengetahuan saya tes gelombang pertama atau gelombang kedua selalu pertengahan tahun. Ketika cek diwebsitenya sps.upi.edu ternyata benar dan saat itulah segera mengurus segala kebutuhannya dan tentu yang paling utama minta doa, restu, dan meminta maaf kepada orang tua, kakak-kakak, keluarga, dan teman-teman dekat. Sempat mengalami hambatan saat meminta surat rekomendasi, bingung mau minta ke siapa rekomendasinya. Mau menemui dekan, kebetulan beliau sedang berada di luar negeri, mau menemui wakil dekan bidang akademik sedang berada di luar provinsi. Tapi akhirnya selesai juga tepat pada waktunya.

Alur pendaftarannya sangat mudah. Buka http://sps.pmb.upi.edu/ dan nanti akan ada petunjuk mengarahkannya. Kita ambil nomor terlebih dahulu untuk mendapatkan pin untuk daftar dengan mengisi biodata dan data-data lainnya dan nanti kita punya kartu ujian seperti di bawah ini.


Sebaiknya H-1 datang ke lokasi ujian biar ga keteteran waktu cari ruangannya. Karena jika mencari ruangannya pada hari H tidak semuanya dibantu oleh stafnya hanya ditunjukkan dilantai berapa, menggunakan lift yang mana, dan harus belok kemana. Selain itu juga mempersingkat waktu juga kan ? Jadi saat hari H tinggal masuk ruangan saja.

Tentunya pada saat ujian harus datang tepat waktu. Sebisa mungkin harus datang paling telat 30 menit sebelum ujian dilaksanakan baik yang jalan kaki atau yang membawa kendaraan sendiri (tapi kalau membawa mobil bisa diparkir di masjid Al Furqon atau gedung sebelahnya SPs) karena untuk pengendara motor ada tempat parkir khusus motor jadi tidak seperti mobil relatif bisa parkir di dekat gedungnya, untuk pejalan kaki lebih baik turun (dari angkutan umum) di gerbang bawah dan berjalanlah lewat masjid Al Furqon untuk mempersingkat waktu biar ga muter sih maksudnya.

Waktu saya mengikuti tesnya benar-benar serasa uji nyali untuk kedua kalinya. Sempat ketakutan juga sih kejebak macet yang luar biasa kalau di pagi hari dan takut susah bangun karena jarak yang lumayan jauh kira-kira sekitar 20 km sampai 23 km, tentunya dari rumah harus nyubuh, dan khawatir kalau kejadian saat tes SNMPTN terulang kembali (kira-kira sekitar 10 - 15 menit sekali bolak balik ke toilet). Aku sengaja dari rumah pergi sekitar jam 5.15 dan memang masih kosong banget jalanan (sampe ngayal kapan Bandung bisa kosong kaya gini. Hehehe) dan memang nyampe di lokasi masih pagi sekitar jam 6. Jauh lebih baik daripada terlambat kalaupun sempat bingung mau ngapain ngabisin waktu satu jam. Padahal bisa saja tidur dulu di Al Furqon sebentar tapi takut kebablasan. Hihihi.

Ujiannya terdiri dari tes TPA dan tes Bahasa Inggris. Tes TPA sebenarnya sama saja seperti tes TPA SNMPTN tertulis (sekarang namanya SBMPTN). Untuk tes Bahasa Inggris tidak jauh berbeda dengan tes TOEFL atau IELTS. Untuk tes wawancara itu hanya dikhususkan untuk seluruh jurusan bahasa (kecuali Bahasa Indonesia). Selain jurusan tersebut (non bahasa) tidak ada tes wawancara. Jadi nanti tinggal tunggu hasil tesnya saja. Oh iya sebisa mungkin maksimalkan skor kita lebih tinggi di TPA karena itu akan menjadi tolak ukur utama untuk lulus, karena menurut pengalaman teman-teman saya yang sudah duluan kuliah di sana, kalau nilai Bahasa Inggris kita kurang kita diminta untuk mengikuti kelas Bahasa Inggris di Balai Bahasa UPI atau jika memiliki sertifikat TOEFL yang masih berlaku itu pun bisa dilampirkan, tapi tetap syarat skor minimal 475 (waktu jaman saya mah begitu akhir tahun 2016).

Hasil tes? Lumayan lama menunggu hasil tesnya kira-kira sekitar 2 atau 3 minggu atau bahkan sebulan. Untuk melihat hasil tesnya nanti bisa dilihat di web sps.upi.edu nanti bisa langsung dicek pada headline terbaru diwebnya sps.upi.edu

Sekian pengalaman saya yang dapat dibagikan. Semoga teman-teman yang sudah mengikuti tes mendapatkan hasil yang memuaskan sesuai dengan yang dicita-citakan. Semoga sukses !!

Terimakasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar